15 June 2010

"Sekali Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui"


Tahun 2008 yang lalu aku berstatus sebagai santri di PesantrenHidayatullah.
Sekarang, Aku sudah jadi Ustadz di situ.
Ngga nyangka...Ngga terduga.
Ini pasti skenario Allah!Pasti!

Hamba yakin amanah yg diberikan kepada hamba pasti mampu hamba tunaikan.
Ya Allah berikanlah kemudahan dan keikhlasan dalam menjalaninya. Amin.

4 Mar 2010

Kiat Memilih Buku Bermutu


Mungkin Anda kerap kecewa saat membeli sebuah buku. Padahal uang yang Anda keluarkan untuk mendapatkannya cukup besar. Akan tetapi, isi buku tidak seperti yang Anda harapkan. Bahasanya sulit dipahami, berbelit-belit, dan membosankan. Banyak ejaan yang salah, hasil cetakannya buram, atau bahkan ada halaman yang kosong.

Sebenarnya Anda dapat menghindari kejadian di atas jika Anda mengetahui cara memilih buku yang berkualitas dengan baik. Nah, agar Anda tidak lagi kecewa ketika membeli buku, berikut ini kami sajikan tips-tips untuk memperoleh buku yang baik.

1. Kenali dari penulisnya
Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Ungkapan ini juga berlaku saat Anda memilih buku. Sebelum membeli buku, cari tahu dahulu siapa penulis buku tersebut. Jika Anda telah mengenal pengarang buku tersebut sebagai penulis buku yang berkualitas, Anda boleh merasa yakin buku tersebut berkualitas.

Anda sebaiknya mengetahui, sebuah buku yang baik biasanya ditulis oleh seorang penulis yang memiliki keahlian di bidangnya. Misalnya, Anda ingin mencari buku tentang ekonomi, sudah sepantasnya buku tersebut ditulis oleh penulis yang berlatar belakang bidang ekonomi. Mungkin penulis tersebut seorang guru atau dosen ekonomi, praktisi ekonomi, atau terkenal sebagai pakar ekonomi.

2. Kenali dari penerbitnya
Di Indonesia ada ratusan penerbit. Akan tetapi, tidak semua penerbit memiliki kemampuan untuk menerbitkan buku yang berkualitas. Biasanya penerbit yang sudah cukup lama, memiliki kemampuan tersebut.

Selain itu, penerbit yang berpengalaman umumnya memiliki penulis-penulis buku yang baik. Jadi, carilah buku yang diterbitkan oleh penerbit yang berpengalaman dan buku-bukunya terkenal berkualitas.

3. Kenali dari desain dan tipografinya

Jika Anda sudah yakin bahwa penulis dan penerbit buku tersebut berkualitas, coba lihat sekilas isi dalam buku. Amatilah desain, apakah memudahkan Anda membacanya ataukah tidak. Desain yang ditata dengan baik dan indah akan membantu pembaca untuk memahami isi buku dengan lebih baik.

Perhatikan juga teks atau huruf isi buku tersebut. Syarat buku yang berkualitas, baik teks isi maupun tipografi atau jenis huruf bukunya membantu pembaca untuk menyerap isi buku tersebut. Sebaiknya, hurufnya tidak terlalu besar ataupun tidak terlalu kecil. Sementara, tipografi atau bentuk hurufnya sederhana namun jelas.

4. Kenali dari ilustrasinya
Saat ini, buku-buku tidak hanya berisi huruf-huruf saja. Baik ilustrasi maupun foto telah menjadi bagian dari buku. Penambahan ilustrasi dalam buku maksudnya ialah untuk menambah keindahan buku dan membantu pembaca memahami isi buku.

Jadi, jika Anda membeli buku yang memiliki ilustrasi atau foto di dalamnya, cobalah perhatikan apakah ilustrasi tersebut mendukung isi buku ataukah tidak. Percuma saja ilustrasinya bagus, tetapi ilustrasi tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang diterangkan dalam buku. Sebaliknya, meski ilustrasi tersebut sesuai isi buku, jika tidak menarik dan jelas, justru akan mengganggu keseluruhan buku.

5. Kenali dari sampul bukunya
Buku yang berkualitas dapat juga Anda lihat dari sampul atau cover-nya. Sampul seharusnya mampu mencerminkan isi buku. Jadi, jika sampul bukunya saja sudah tidak menarik, asal-asalan, mudah rusak, bagaimana kita bisa yakin jika buku tersebut berkualitas? Buku yang baik seharusnya memiliki cover yang memiliki desain menarik dan terbuat dari bahan yang kuat atau tidak gampang rusak.

6. Kenali dari sinopsisnya
Sinopsis adalah ringkasan isi buku beserta kelebihan-kelebihannya. Biasanya isi sinopsis ini ditampilkan pada sampul belakang buku. Sebelum Anda memutuskan membeli sebuah buku, alangkah baiknya apabila Anda membaca sinopsis buku tersebut. Cara tersebut akan berguna untuk memastikan bahwa buku tersebut itu sesuai dengan kebutuhan Anda.

7. Kenali dari daftar isinya

Di samping sinopsis, Anda dapat mengetahui isi sebuah buku dengan melihat daftar isinya. Daftar isi merupakan poin-poin atau bab-bab yang terdapat di dalam buku tersebut. Biasanya, daftar isi terdapat pada halaman awal dalam sebuah buku. Sebuah buku yang baik seharusnya memiliki daftar isi yang mampu mencerminkan kandungan isi buku tersebut.

(Prayogo) dari http://ganeca.blogspirit.com/archive/2005/05/index.html

Bagaimana Mengajar Matematika yang Benar

Pernahkah Anda sebagai pengajar merasa kesulitan mengajar matematika kepada anak didik? Mungkin Anda yakin sudah mengajarkan matematika kepada anak didik dengan benar, tetapi mengapa nilai mereka tidak mencapai target Anda? Anda tidak sendirian dalam hal ini, banyak orang tua juga merasakan hal yang sama.

“Matematika itu susah” merupakan pernyataan klasik. Bisa jadi sebagian besar anak didik Anda membenarkan kalimat tersebut. Apalagi mereka yang tidak menyukai matematika pasti beranggapan bahwa ilmu pasti ini rumit, njelimet, membingungkan, dan bikin pusing saja. Akhirnya mereka pun jadi malas belajar matematika.

Satu hal yang harus Anda pahami dan sadari, tidak semua siswa mempunyai tingkat intelektual tinggi. Kemampuan setiap siswa menangkap materi pelajaran yang disampaikan berbeda-beda. “Setiap anak memiliki daya nalar yang berbeda. Respon mereka terhadap materi yang disampaikan guru ada yang cepat dan ada pula yang lambat. Memaksa dan memarahi anak didik tidak akan membuahkan hasil seperti harapan Anda,” demikian penuturan Guru Besar Psikologi dan pengamat pendidikan Universitas Diponegoro dalam Suplemen Pendidikan Media Indonesia (3 Mei 2002). Khusus untuk mata pelajaran matematika, jangan menyuruh anak menghafal rumus. Hal ini juga ditegaskan Seto Mulyadi, ahli psikologi anak. Seperti dikutip dari majalah Bobo, 18 Juni 2001, menurutnya, matematika merupakan ilmu pasti yang menuntut pemahaman dan ketekunan berlatih. Menghafal rumus dan cara mengerjakan soal bukan langkah tepat membuat anak cakap dalam ilmu ini. Pendidik seharusnya memiliki metode mengajar yang menggugah minat siswanya.

Seorang guru matematika kelas 6 SDK 2 Penabur Jakarta, Hennyriawati ( Kompas, 3 Oktober 2004) memiliki cara mengajar yang dapat dicontoh. Dia selalu memberi contoh manfaat belajar matematika kepada anak didiknya yang malas belajar matematika. “Saya selalu menyadarkan mereka akan manfaat dan nilai penting belajar matematika. Tips belajar matematika juga saya berikan agar mereka melakukannya,” tutur Henny.

Tanamkan pada anak didik, dengan belajar matematika kita akan tahu dan bisa mengukur berapa jauh jalan balik menuju tempat semula sehingga tidak tersesat. Kita juga bisa mengatur uang saku yang harus dikeluarkan dan berapa rupiah sisanya yang bisa ditabung. Dalam matematika seringkali terdapat banyak soal cerita. Ketika mengerjakan soal cerita, kita dituntut mengaitkan beberapa hal sehingga dapat membuat logika kita berjalan.

Beberapa tips berikut ini dapat diterapkan oleh guru untuk mempelajari matematika.

• Sebagai pendidik berusahalah supaya cara mengajar Anda menarik bagi para siswa sehingga mereka menyukai Anda. Cobalah untuk sabar dan telaten menuntun mereka belajar. Selingi jam mengajar Anda dengan dongeng dan lelucon.

• Jangan memaksa anak menghafal rumus matematika. Ajaklah mereka memahami teori dan langkah-langkah pengerjaan soal dengan memberi contoh yang dekat dengan dunia anak-anak.

• Cobalah membuat sketsa untuk mempermudah siswa memahami soal cerita. Khusus untuk geometri (pelajaran ruang bangun), ajaklah siswa membuat alat peraga bersama.

• Cobalah Anda membuat bank soal dari soal-soal sulit yang ditemukan dari sumber mana pun. Anda dan semua siswa mencoba menyelesaikan semua soal itu bersama-sama. Bisa juga dibentuk kelompok belajar. Setiap kelompok harus ada 1 dan 2 anak yang pandai matematika supaya bisa membantu teman-temannya. Tentu saja Anda tetap memberi petunjuk penting.

Semoga keempat cara di atas bermanfaat bagi guru-guru.

(Laksmi)

sumber : http://ganeca.blogspirit.com

ketidakmauannya memahami sesuatu melampaui ruang dan waktunya!

Pikiran yang malas belajar akan selalu berdiri kokoh dibalik bangunan cakrawala dan cara pandangnya yang lama. Pikiran yang senang belajar akan selalu berpetualang menjelajahi cakrawala dan cara pandang yang baru! Pikiran yang malas belajar adalah pikiran yang membosankan karena ketidakmauannya memahami sesuatu melampaui ruang dan waktunya! Di sinilah setiap siswa harus bisa menelusuri Logika Aritmatika dan Logika Matematika, agar mereka terbiasa berpikir logis dan sistematis.

14 Oct 2009

Tiga orang yang selalu mendapatkan pertolongan Allah

“Tidakkah kau lihat langit biru dengan awan berarak disulam oleh burung-burung, amatlah indah. Atau engkau saksikan lereng bukit yang teramat indah. Atau taman bunga yang mekar beraneka warna dengan harum semerbak, teramat indah. Atau kau dengar suara jangkrik bersahutan, teramat indah. …Mengapa hati yang satu-satunya ini, kau biarkan merana tanpa gelora cinta kepadaNya?”

,”Berlelah-lelahlah dalam kebajikan, karena dalam kelelahan itu ada kenikmatan yang sungguh nikmat.”

Dalam hidup ini hanya ada dua pilihan. Pertama, menjadi bagian dalam menciptakan fikroh(Pemikiran). Kedua, dipaksa mengikuti fikroh.

Dalam hidup ini hanya ada dua pilihan. Pertama, menjadi bagian dalam menciptakan fikroh(Pemikiran). Kedua, dipaksa mengikuti fikroh.

Tiga orang yang selalu mendapatkan pertolongan Allah tiada henti-hentinya adalah mujahid yang membela agama Allah, PENULIS yang mencerahkan, dan pemuda yang menyegerakan menikah untuk menjaga kehormatan diri.} (HR Ahmad)

21 Sept 2009

met idul fitri, diriku...

kepada diriku terkasih,
" Semoga ramadhan membakar segala dosamu...mensucikan ruhiyahmu...meluruskan niat sucimu...mencerdaskan akal sehatmu... dan mendekatmu ke syurgaNya."


Sahabat-sahabatku, karib kerabat serta handai taulan....
Sedih donk ya ninggalin ramadhan lg, Mudah-mudahan tahun depan Allah kasih kita kesempatan buat kita bercinta dengan ramadhan lagi. Taqabballahu minna wa minkum. Semoga Kita mau dan mampu kembali kepada-Nya dengan Ridla lillahi ta'ala.

teruntuk,
hery haldun

14 Aug 2009

Cek Cek


cek lagi...Error ga ya...

8 Aug 2009

GEMA RAMADHAN mohon doanya aja biar semua bisa kelar yee...

GEMA RAMADHAN 1430 H Kepanjangan dari Gembira menyambut Ramadhan 1430 H, Insya Allah langsung faham kan maksudnya....
Insya Allah akan dilaksanakan tanggal 20 ags 2009, H-1 Ramadhan 1430 H.
Kita akan laksanakan dari pukul 07.00 sampai 22.00 wib bertempat di masjid Al Fath Pasadena.
Insya Allah kita akan adakan lomba kreatifitas anak muslim menyambut ramadhan, pentas kreasi santri mdta al fath dan tabligh akbar bersama ustadzah leni umar dari radio mara.
Selain ngurus gema ramadhan, ry jg lagi normalisasi mdta, persiapan munas ke solo, ngebina adikku yg di purwakarta and bdg, kuliah juga bro , dll lah... jd....mohon doanya aja biar semua bisa kelar yee...

24 May 2009

Kembali Ke Pemikiran Islam


Sesungguhnya umat Islam akan senantiasa berada dalam kemuliaan selama mereka berpegang teguh kepada pemahaman Islam seraya istiqomah mengimplementasikan Islam dalam segala aspek kehidupan. Kapasitas Islam untuk mengantarkan umat manusia mencapai kebangkitan telah dibuktikan oleh para pendahulu kita. Pada masa Rasulullâh saw dan para sahabat Islam telah mengangkat derajat bangsa Arab yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan dalam percaturan dunia menjadi bangsa yang berpengaruh. Mereka mampu menerangi dunia dengan cahaya kebenaran. Para khalifah sepeninggal Rasulullâh saw melanjutkan perjuangan beliau menyatukan berbagai suku bangsa dalam satu akidah dan hukum. Yaitu akidah dan hukum Islam yang diterapkan secara nyata dalam Negara Khilâfah islamiyah yang menguasai dua pertiga dunia dan berjaya selama belasan abad.
Apabila umat Islam benar-benar memahami Islam secara jernih, umat dapat melalui kehidupan dengan arah dan metode yang jelas. Karena Islam memiliki aturan-aturan yang lengkap, adil dan sesuai dengan fitrah manusia sebagai solusi segala problematika kehidupan. Dan Islam mewajibkan setiap muslim untuk senantiasa terikat dengan arah dan metode tersebut. Oleh karena itu setiap muslim dituntut untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dengan mengembalikannya secara mutlak kepada Islam.
Dalam rangka memahami dan mengamalkan Islam seorang muslim harus memiliki pemahaman yang mendalam mengenai akidah dan syari'at Islam Allâh SWT berfirman
فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةً لِيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ
"Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya dan supaya mereka itu dapat menjaga diri" (TQS. At-Taubah: 122)
Rasulullâh saw bersabda :
أيُهَا النَّاسُ تَعَلَمُو اِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلَّمِ وَالْفِقْهُ بِالْتَفَقُّهَ وَمَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُ فِى الدِّيْنِ
"Wahai sekalian manusia belajarlah kalian! Sesungguhnya ilmu itu bisa didapat dengan belajar. Dan paham itu bisa diperoleh dengan cara memahami. Barang siapa yang Allâh menghendaki pada dirinya kebaikan, maka Allâh akan pahamkan dia dalam masalah agama" (THR. Ibnu Abi Ashim dan Thabrani)
Kedua nash tersebut menerangkan kewajiban mempelajari pemahaman Islam berlaku bagi setiap muslim (fardu 'ain). Setiap muslim harus memahami akidah Islam yang akan dijadikan landasannya dalam berpikir dan Syariat Islam sebagai panduan dan tolak ukur amal perbuatan. Oleh karena itu setiap muslim wajib mengerahkan segenap kemampuannya untuk mendapatkan pemahaman tersebut termasuk memahami ilmu pendukung untuk menggali pemahaman Islam. Menurut sebuah kaidah syara' : mâlâ yatimmu al wajîbbu illâ bihî fahua wâjibun (segala sesuatu yang menjadikan sempurnanya suatu kewajiban menjadikan sesuatu itu menjadi wajib). Maka dari itu ilmu pendukung seperti Bahasa Arab, Ushul fiqih, Ulumul Hadits dan Ulumul Quran wajib dipelajari, karena tanpa ilmu-ilmu tersebut kita tidak dapat memahami Islam dengan sempurna.
Namun kewajiban itu belum sempurna sehingga umat Islam dapat memahami permasalahan yang dihadapi dengan serinci-rincinya. Karena untuk menentukan status hukum dari setiap benda maupun perbuatan harus diketahui terlebih dahulu realitanya untuk kemudian dikaitkan dengan nash syara'. Setelah itu barulah didapatkan kesimpulan hukum yang benar. maka merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk memahami semua realita yang berkaitan dengan aktivitas yang ia lakukan dalam bidang ekonomi, politik, budaya, biologi, kesehatan, dan lain sebagainya.
Dengan sekedar memahami ilmu-ilmu tersebut bukan berarti kewajiban menuntut ilmu telah selesai, karena Islam menuntut kita untuk menyempurnakan semua kewajiban yang sering kali terkait dengan ilmu dan sarana pendukung. Misalnya untuk kewajiban berperang fîsabîlillâh:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allâh, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allâh mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allâh niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)” (TQS. al-Anfaal : 60).
Berarti Allâh SWT memerintahkan kita untuk mempelajari teknologi dan strategi perang untuk menyempurnakan kewajiban ini. Begitu pula ilmu-ilmu lain yang dapat menyempurnakan kewajiban seperti matematika, biologi, kedokteran, kimia, perindustrian dan lain sebagainya harus dikuasai dan berstatus hukum fardu kifayah. Rasulullâh saw berkata: “Carilah ilmu meskipun ke negeri Cina” (THR. Ibnu Adi dan Baihaqi dari Anas ra). Hadits ini menunjukkan kewajiban untuk mempelajari segala jenis ilmu dalam cakupan ilmu yang sangat luas.
Imam al-Ghazali pernah berkata: "Apabila ilmu-ilmu dan karya-karya yang dimiliki non muslim lebih utama dari yang dimiliki kaum muslimin, maka kaum muslimin berdosa dan kelak akan dituntut atas kelalaian itu."
Apabila seluruh umat Islam istiqomah dalam memenuhi kewajiban mendalami tsaqafah Islam, memahami relita kehidupan dan berjuang keras mengembangkan ilmu pengetahuan guna menyempurnakan kewajiban Allâh SWT akan memuliakan mereka.
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ
“Katakanlah (wahai Muhammad), apakah sama orang-orang yang berpengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan” (TQS. az-Zumar: 9).
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا اِلَى الْخَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allâh akan memudahkan jalan baginya menuju syurga” (THR. Muslim dan Tirmizi dari Abu Hurairah ra).
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allâh mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (TQS. al-Mujadalah: 11).
Janji Allâh SWT tersebut telah terbukti. Ketika Islam diyakini dan diterapkan Umat Islam selalu paling depan dalam meraih kemajuan-kemajuan yang gemilang dalam ekonomi, militer, pendidikan dan bidang kehidupan lainnya. Umat Islam telah melahirkan banyak ulama andal yang menguasai berbagai cabang ilmu. Tidak sedikit di antara mereka yang berpredikat sebagai mujtahid sekaligus ahli sains, pemikir, atau sastrawan. Nama-nama mereka tertulis dalam lembaran sejarah karena banyak memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi ilmu pengetahuan dan peradaban manusia pada umumnya.
Umat islam disegani oleh umat-umat lain. Pengaruh kaum Muslimin saat itu sangat kuat. Selama beberapa abad negeri-negeri Islam menjadi pusat peradaban dunia yang mempengaruhi corak peradaban dunia. Sejarah mencatat renaisance (kebangkitan eropa) amat dipengaruhi oleh peradaban Islam yandg diadopsi oleh barat.
Demikianlah bagiamana Islam mengangkat derajat kaum Muslimin selama mereka mengimani, memahami dan mengamalkan Islam dengan benar dan bersungguh-sungguh dalam menjaga kemurnian pemahamannya.
Namun sejak pertengahan abad XII Hijriyah (18 Masehi) kaum Muslimin mengalami kemunduran dengan sangat cepat. Kemunduran tersebut adalah akibat dari kelalaian umat dalam menjaga kemurnian pemahaman Islam dan pengamalannya. Akibatnya, semakin lama keimanan mereka semakin lemah dan semakin jauh dari syari’at.
Pada awal abad II Hijriyah banyak pemikiran asing yang bertentangan dengan Islam mulai menyelinap masuk ke dalam pemahaman kaum Muslimin. Filsafat-filsafat asing seperti filsafat Yunani, India, Persia, telah memengaruhi kaum Muslimin sehingga mereka terseret jauh dari pemahaman Islam yang sahih. Sebagian kaum Muslimin berupaya mengompromikan bahkan menginterpretasikan pemahaman Islam dengan pemahaman asing. Akibatnya pemahaman umat menjadi kacau dan jauh dari hakikat kebenaran.
Keadaan kaum Muslimin menjadi semakin parah tatkala orang-orang kafir mulai melancarkan serangannya dengan cara penjajahan fisik, perang pemikiran (Ghazwul Fikri) dan pergolakan budaya (Ghazwul tsaqafi). Kaum Muslimin terpukau oleh peradaban Barat sehingga mereka mencampakkan Islam. Pada akhirnya peradaban kaum Muslimin roboh diterjang pemikiran Barat. Dan buah dari semua itu kaum Muslimin harus menanggung kehinaan dan kenestapaan akibat penjajahan, fisik maupun pemikiran, yang dilakukan orang-orang kafir hingga saat ini.
Pengalaman adalah guru yang paling baik. Demikian petuah orangtua kita. Berkaca dari sejarah, kita dapat melihat betapa kelalaian dalam menjaga pemahaman Islam ini telah menjatuhkan kita pada titik terendah dari peradaban Islam. Suatu posisi yang tidak selayaknya ditempati oleh umat terbaik. Oleh karena itu kita harus melakukan upaya-upaya nyata untuk mengembalikan kejayaan kaum Muslimin. Hal paling mendesak untuk dilakukan adalah menarik kembali umat ke dalam pelukan Islam dengan cara menanamkan kembali pemahaman Islam ke dalam benak mereka seraya membersihkannya dari pemikiran-pemikiran kufur. []

2 Mar 2009

Fenomena Ponari di Kota Santri

Aneh tapi nyata. Jika kita melihat fenomena Ponari dan teman-temanya (konon mulai bermunculan banyak disekitarnya)


Masyarakat Indonesia dihebohkan dengan bocah cilik asal Jombang Jawa Timur, bernama Ponari yang tiba-tiba mendapat kemampuan untuk mengobati berbagai penyakit dengan sebuah batu yang dicelupkan ke dalam air minum. Akibat ekspos media massa yang luar biasa, dengan cepat puluhan ribu orang dari seluruh Indonesia memadati dusun tempat tinggal Ponari di Jombang. Sudah empat orang tewas terinjak-injak karena berdesak-desakan di gang sempit menuju rumah Ponari; kemarin , seorang bayi meninggal setelah meminum air sakti ponari.

Melihat sosok Ponari di layar tv ketika sedang mengobati sangatlah tidak sesuai dengan gambaran kesaktiannya. Cara mengobati Ponari hanyalah dengan cara digendong dengan tangan kanan memegang batu yang dicelupkan ke dalam air yang dibawa para pengantri. Lama celupan hanya dalam hitungan detik. Perhatian Ponari ketika menyembuhkan tidak seperti dokter yang serius memperhatikan pasien tetapi justru matanya asyik melihat layar HP yang dimainkannya dengan tangan kiri

Fenomena Ponari menimbulkan beberapa pertanyaan. Sudah sedemikian parahkah sakit yang diderita masyarakat di sekitar kita? Fenomena Ponari ini hanya gejala sakit masyarakat secara sosial. Sebuah akumulasi keputusasaan dari bertumpuknya beban hidup. Perwujudan dari masyarakat yang sakit itu adalah mulai berhalusinasi dengan percaya pada hal-hal yang diluar aturan agama, di luar akal sehat dan hanya ikut-ikutan.

Jumlah pasien Ponari yang sedemikian banyaknya, apakah belum tersentuh layanan kesehatan murah yang disediakan pemerintah yaitu Puskesmas atau layanan asuransi kesehatan untuk masyarakat miskin? Bila beralasan tidak mampu tentunya sangat tidak masuk akal karena mereka datang dari berbagai kota yang tentunya memerlukan ongkos transportasi yang lebih besar dari ongkos ke Puskesmas. Kemungkinan lain adalah mereka para pasien yang sudah akut yang mendekati putus asa ketika mendengar kesaktian batu Ponari seperti mendapatkan pengharapan demi kesembuhan.

Saya bertambah prihatin masyarakat sekitar kita yang sakit ini menandakan negeri ini terlalu lama ribut di tingkat elit sehingga masyarakat pun terabaikan. Pembangunan yang ada hanya berorientasi fisik dengan melupakan aspek spiritual atau rohani. Jiwa masyarakat terlalu kering dan mudah putus asa. Sudah saatnya pembangunan rohani tetap mendapatkan perhatian supaya pesatnya perkembangan jaman tidak membuat bangsa ini semakin putus asa. Jangan pisahkan kebutuhan spiritual dengan kebutuhan fisik karena manusia terdiri dari jiwa dan raga. Inilah buah sekulerisme yang selama ini diterapkan dinegeri kita. Ingat! Negeri ini adalah negeri muslim bukan negeri sekuler. Jadi aturlah dengan aturan islam.

Apa yang dilakukan oleh Ponari sebenarnya tidak beda dengan praktek pengobatan alternatif lain. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Ustad Haryono di Bekasi melalui air minum dan minyak kelapa yang sudah diberi doa atau transfer penyakit ke tubuh hewan. Kunci penyembuhan dari pengobatan alternatif adalah karena faktor sugesti. Pasien percaya atau tidak dengan teknik penyembuhan seperti itu. Kalau yakin dan percaya, maka pada beberapa kasus penyakit memang berhasil disembuhkan, tapi kalau ragu-ragu atau kurang yakin biasanya memang sulit sembuh.

Beberapa kalangan menilai fenomena Ponari menunjukkan matinya logika. Masyarakat dinilai sudah tidak percaya kepada pengobatan modern yang lebih rasional. Bahkan, beberapa ulama dengan cepat menyatakan bahwa pengobatan ala Ponari itu tergolong perbuatan syirik, sebab orang lebih percaya kepada batu, bukan kepada Allah.

Menurut Prof Haryadiو fenomena pengobatan yang dilakukan Ponari tidak bisa hanya dianalisis dari sisi ilmiah. Semua orang seharusnya lebih bijaksana menghadapi fenomena Ponari ini, termasuk di dalamnya kemungkinan adanya kekuatan gaib pada diri Ponari yang tidak bisa dijelaskan dengan akal.

“Ini bukan sekadar ilmu logika. Harus diakui bahwa masyarakat yang berduyun-duyun ke praktik Ponari melihat hal ini dari sisi kegunaan, dari sisi aksiologinya saja. Mereka tak butuh penjelasan ilmiah, mereka hanya ingin sembuh,”

Menurut saya, kita memang harus hati-hati memberikan penilaian (syirik atau bukan) dan tidak cepat berburuk sangka. Ada dua kemungkinan skenario Tuhan tentang ini.

Skenario pertama, mungkin saja Ponari diberi anugerah kekuatan penyembuhan penyakit oleh Allah SWT. Hal seperti ini sudah sering kita dengar dibeberapa tempat bahwa ada orang yang tiba-tiba mendapat kekuatan atau ‘ilmu’ dari Tuhan sehingga dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Bagi Allah SWT, apapun yang tidak mungkin dalam pandangan manusia, bagi Dia mudah saja. Kun faya kun, jadilah maka terjadilah ia.

Skenario kedua, melalui Ponari dan batunya itu, Allah SWT ingin menguji iman ummat-Nya, sejauh mana akidah manusia berubah melalui pengobatan Ponari itu. Apakah manusia lebih percaya bahwa batu itu yang menyembuhkan penyakit atau tetap percaya bahwa Allah yang menyembuhkan sedangkan Ponari hanyalah perantara kesembuhan belaka. Jika meyakini batu atau Ponari itu yang menyembuhkan, jatuhlah ia keperbuatan syirik yaitu sikap mempersekutukan Tuhan, yang mana dosanya tidak bisa diampuni.

Saya lebih setuju Allah sedang menjalankan skenario kedua. Kita, manusia, sedang diuji keimanannya melalui fenomena Ponari dan batu ajaibnya.


* * *
[Ibnu Khaldun. Feb 09]
Mengapa Ada yang Golput ?


Bolehkah golput? kalo ternyata yang dipilih nggak yang layak-oke-bagus...


Saat ini ‘euforia’ pemilu 2009 sudah semakin terasa. Banyak partai bermunculan ditelevisi dan di jalan-jalan untuk memamerkan rayuannya dan dagangannya, termasuk partai yang berasaskan islam.

Di sisi lain, dalam beberapa diskusi yang diadakan di televisi dan survey yang dipublikasikan media massa serta publikasi hasil pilkada didapatkan fakta : rakyat semakin ‘enggan’ menyalurkan suara politiknya lewat partai-partai yang ada.

Berangkat dari realitas itu pula beberapa hari kebelakang MUI mengeluarkan fatwa tentang haramnya ‘golput’ dengan harapan tingkat partisipasi masyarakat di pemilu nanti akan ada peningkatan. Namun,

Pertanyaannya : Mengapa rakyat (sebagian) cenderung golput?

Pertanyaan ini penting dijawab. Sebab, sejatinya alternatif pilihan masyarakat saat ini adalah partai-partai Islam tetapi ternyata tidak.
Menurut Rahmat Kurnia (2008) Siapapun yang mengikuti dinamika masyarakat kekinian akan menemukan setidaknya ada empat (4) faktor penyebabnya yaitu :

1. Kegagalan partai dalam berfihak kepada masyarakat. Keinginan masyarakat pada partai yang benar-benar memperjuangkan aspirasi Islam sangat ditunggu-tunggu. Survey PPIM tahun 2001 menunjukkan prefernsi (pilihan) masyarakat terhadap syariah 61 %, tahun 2002 meningkat menjadi 71%, tahun 2003 meningkat menjadi 74%. Ternyata 5 tahun berikutnya, berdasarkan survey SEM Institute pada awal tahun 2008 meningkat secara tajam mencapai 83 %.

Namun, mengapa keinginan kuat terhadap syariah tidak berbanding lurus dengan dukungan masyarakat terhadap partai politik islam? Ternyata, penelitian Indo Barometer (2008) menunjukkan persepsi masyarakat bahwa tidak ada bedanya partai Islam dengan partai lain (43,3%), dan perilaku elite/pengurus dari partai islam sama dengan partai lain yang bukan dari partai islam (34,8%).

Wakil-wakil rakyat di DPR pada periode ini menunjukkan perilaku yang mirip dengan wakil rakyat dari partai sekuler. Pembelaan wakil rakyat terhadap kepentingan umat Islam tidak tampak. Justru sebaliknya, terbaca oleh masyarakat, partai-partai yang ada tak terkecuali partai Islam, hanya menjadikan parlemen sebagai ajang untuk mencari penghidupan dan berebut kue kekuasaan. Kalangan DPR, termasuk partai islam justru setuju dengan kenaikan harga BBM. Ketika rakyat teriak-teriak antri minyak tanah dan harga sembilan bahan pokok melambung, kebanyakan para wakil rakyat hanya diam.

2. Kegagalan pendidikan politik idiologis.
Hal ini adalah akibat politik pragmatisme yang menguasai kancah perpolitikan saat ini. Sikap ini merugikan umat islam dan partai islam. Pragmatisme akan mendegradasi tujuan dan cita-cita perjuangan islam. Siapapun tak dapat menyangkal, pragmatisme berarti harus merelakan diri menyesuaikan diri dengan keadaan/fakta; artinya melepaskan nilai-nilai dasar perjuangan dan idiologi partai yang telah digariskan. Karakter partai Islam akan luntur. Memang bisa berdalih, ini semeua masih dalam koridor Islam. Namun, dalih ini sebenarnya hanya pemanis mulut, bukan arus utama.

Proses pendidikan politik masyarakat mandeg. Apa yang dilihat oleh masyarakat hanyalah dagelan elit politik. Partai-partai hanya menyapa rakyat ketika akan Pemilu atau Pilkada. Kaderisasi, penanaman Islam sebagai way of life, dan pemikiran politik tidak tergarap. Sumberdaya hanya dikerahkan demi suara. Wajar belaka jika kesadaran politik rakyat tidak meningkat.

3. Pembusukan citra partai islam.
Tidak dipungkiri ada upaya untuk mencitraburukkan partai islam. Hal sederhana, masalah poligami dipolitisasi sedemikian rupa sehingga seakan akan pelakunya berbuat criminal. Belum lagi isu kekerasan terus dilekatkan pada gerakan/lembaga dan partai Islam. Untuk menghindari hal tersebut, bergeraklah partai islam untuk meninggalkan idiologi islam, citra islam, bahkan symbol-simbol islam. Alih-alih bersifat ofensif menawarkan islam sebagai solusi, justru sibuk cuci tangan terhadap pelekatan Islam pada dirinya. Sudah dapat ditebak, partai Islam pun tinggal sekedar nama.

4. Skandal politisi.
Sebagian anggota DPR dilanda skandal seks. Kasus suap dan gratifikasi yang begitu telanjang dilakukan anggota DPR. Tingkat kesadaran anggota DPR melaporkan gratifikasi hanya 1,9%. Main mata dalam setiap pembuatan undang-undang bukan rahasia lagi. Semua itu tidak hanya melibatkan partai sekuler. Partai yang menamakan dirinya Islam sekalipun ada yang terlibat di dalamnya. LSI menyebutkan di tahun 2008, kepuasan public terhadap pemerintah dalam 3 tahun terakhir turun, dan kepercayaan masyarakat terhadap DPR pun dibawah 50 %.

Last but not least, penyebab utamanya adalah system demokrasi itu sendiri. Dalam system demokrasi opini menjadi sangat penting. Orang harus terkenal untuk bisa memenangkan Pemilu. Uang pun digelontorkan untuk beriklan dimedia massa. Kampanyepun membutuhkan dana yang tidak sedikit. Darimana uangnya? Dari para anggota partai yang jadi pejabat, para pengusaha atau asing. Tidaklah mengherankan, anggota DPR makan suap, karena sebagian uangnya masuk kedalam kocek partai.

Begitu juga logis sekali main-mata dengan pengusaha dan asing hingga pembuatan UU selalu berfihak kepada mereka karena mereka dibiayai oleh para penguasa dan asing itu. Negara pun berubah dari nation state (Negara-bangsa) menjadi corporate state(Negara-perusahaan). Negara laksana sebuah perusahaan besar: para konglomerat sebagai pemilik modal: para pejabat menjadi pengelolanya; dan rakyat sebagai pihak pembeli yang diekspoitasi. Pilkada dan Pemilu pun tidak lebih dari suatu industri politik. Karenanya, mempertahankan sistem demokrasi sama dengan memelihara penyakit.

Melepaskan Pragmatisme

Kondisi sekarang semakin parah dengan adanya idiologi pragmatisme yang dipegang oleh partai-partai teramsuk partai Islam. Dalam situasi politik yang didominasi kepentingan sesaat seperti sekarang, bukan persoalan mudah untuk tidak tergiring dalam arus pragmatisme. Apalagi jika orang-orang yang menjadi anggota partai politik Islam tidak memiliki tameng diri yang kuat.

Namun, bukan berarti itu tidak bisa dihindari oleh partai-partai Islam. Caranya, partai-partai harus kembali mamahami asas perjuangannya yakni islam dan cita-cita islam itu sendiri bagaimana harus diterapkan. Partai islam harus lantang menolak UU yang lahir dari sekulerisme dan bertentangan dengan islam. Partai islam harus terus melakukan koreksi terhadap kebijakan keliru penguasa (Muhasabah hukkam). Para anggota partai Islam harus ingat betul mereka berjuang untuk islam sehingga mereka bergabung dengan partai Islam. Jangan sampai terbalik, dengan dalih Islam, mereka berebut mencari penghidupan dengan duduk menjadi wakil rakyat, setelah itu lupa tujuan pembentukan partai islam itu sendiri.

Karenanya, jika partai-partai islam ingin meraih dukungan yang signifikan, tidak ada jalan lain, mereka harus mendefinisikan dirinya kembali sebagai partai Islam sesungguhnya bukan sekedar nama belaka. Posisi abu-abu yang selama ini mendominasi harus segera disingkirkan. Jatidiri sebagai partai islam sejati harus ditunjukkan. Tegas menyatakan yang benar sebagai benar dan salah sebagai salah. Jadikan parlemen sebagai mimbar dakwah. Konsekuensinya berbagai hal yang bertentangan dengan syariah Islam akan ditentangnya.

Kini saatnya partai-partai islam meniti jalan Islam yang sesungguhnya, sesuai khittahnya sebagai partai pembawa suara islam (Shaut al- Islam), bukan sekedar basa-basi.

* * *

[Ibnu Khaldun Aljabari, 3/2/2009]

28 Nov 2008

Indonesian Menghina Nabi

Anda mungkin sudah membaca atau mendengar atau melihat di televisi tentang penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw dalam bentuk komik yang dipublish oleh salah satu pengguna blog Wordpress.com. Bila sebelumnya dilakukan di negara-negara Barat, seperti yang terakhir terjadi pada 13 Februari 2008 lalu dimana tiga harian di Swedia, Belanda dan Spanyol, termasuk Koran Jyllands-Posten di Denmark, memuat kembali karikatur yang sangat menghina Nabi Muhammad, kini karikatur atau komik serupa lahir dari seorang Indonesian (warga Indonesia). Komik itu menggambarkan secara tidak senonoh perkawinan Nabi Muhammad dengan Zainab dan Aisyah.

“…Pas saya lihat isinya, kaget juga, gambar nya sangat vulgar yang menggambarkan adegan yang sangat tidak pantas untuk diungkapkan disini. Gambar-gambar kartun yang hampir sering dilihat di web-web sex-hardcore tetapi berbahasa Indonesia. Sekilas dilihat karena betul-betul benci dan sangat tidak berminat untuk membacanya, Buru-buru gw hidden atau minimize tampilan web, gak enak dilihat sesama teman lab dan barangkali sensei ku juga lihat, bisa berabe urusannya. Bukannya kerja malah lihat-lihat kartun seronok. … Saya coba curi-curi pandang, saya penasaran, scroll kebawah demi menghindari gambar-gambar seronok penghinaan keagungan Nabi Muhammad Saw, dan dibawahnya ada beberapa link yang isinya lebih banyak kepada hal-hal penghinaan terhadap Islam, kekerasan, dan makian dalam budaya batak (http://erwin2h.wordpress.com)
Saya yakin banyak pihak yang telah mendownload gambar-gambar tersebut untuk kepentingan tertentu, seperti yang diinformasikan dalam http://cesarzc.wordpress.com, ia telah menemukan 2 blog lain mensiarkan kartun penghinaan terhadap nabi tersebut. Lebih parah lagi, dalam salah satu situs tersebut dituliskan :
“Marah?!? Ayo dong… kirim seribu ‘report abuse’ (kumpulin orang2 idiot sekampungmu utk report abuse… ayo coy!! Kau pikir kebenaran bisa dibungkam hanya dengan menutup sebuah situs?!? Hehehehe…. Salah orang kau, geblek! Apa susahnya bikin account baru, bikin blog baru, bikin web gratisan baru? Kau tutup satu, kubikin seribu!!! Emang mo ngapain lo-lo pade?!
Penghinaan ini juga menunjukkan bahwa kebencian terhadap Nabi Muhammad yang sebelumnya muncul di sejumlah negara Barat kini telah menular ke dalam negeri. Dengan fakta ini, Indonesia betul-betul telah menjadi pasar dari segala macam paham, termasuk tentang HAM yang destruktif. Selalu saja mereka berdalih, pembuatan dan pemuatan komik ini merupakan bagian dari kebebasan berkreasi. Tapi faktanya, ini adalah kebebasan untuk melakukan apapun termasuk mendeskreditkan, menghina, dan melecehkan Islam dan Nabi Muhammad SAW. Paham semacam ini pada faktanya sangatlah subyektif, artinya hanya berlaku untuk mereka. Ketika di Perancis muslimah dilarang mengenakan jilbab, ”kebebasan” yang mereka dengungkan itu tidak lagi terdengar. Mengapa mereka boleh bebas menghina Nabi, muslimah di Perancis tidak boleh bebas berjilbab? Ketika umat Islam lantang menyerukan penerapan syariah Islam sebagai pengganti Kapitalisme yang memang bobrok, mereka menudingnya garis keras. Mengapa mereka bebas berekspresi, sedang umat Islam tidak boleh memilih syariah untuk negeri mereka sendiri?
Penghina Nabi dalam Daulah Islam
Pelaku penghinaan terhadap Rasulullah saw pantas dihukum mati bila dia seorang Muslim. Bila pelakunya seorang Kafir Dzimmi seperti Yahudi, Nashrani, dan sebagainya, terhadap mereka harus dijatuhi hukuman mati, kecuali apabila mereka bertaubat dan masuk Islam. Demikianlah ketentuan syariah Islam, yang diterapkan oleh Daulah Islam dalam membela kehormatan Nabi saw. Inilah ketentuan hukum Islam, sebagaimana yang dinyatakan Imam As-Syaukani, Imam Syafi’i dan Imam Hambali.
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra. yang berbunyi:
“Bahwa ada seorang wanita yahudi yang sering mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. (oleh karena perbuatannya itu), maka perempuan itu telah dicekik sampai mati oleh seorang laki-laki. Ternyata Rasulullah saw. menghalalkan darahnya”. (HR Abu Dawud)
Ibnu Abbas telah meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi, bahwa ada seorang laki-laki buta yang istrinya senantiasa mencela dan menjelek-jelekkan Nabi Muhammad saw. Lelaki itu berusaha melarang dan memperingatkan agar istrinya tidak melakukannya. Sampai pada suatu malam (seperti biasanya) istrinya itu mulai lagi mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. Merasa tidak tahan lagi, lelaki itu lalu mengambil kapak kemudian dia tebaskan ke perut istrinya dan ia hunjamkan dalam-dalam sampai istrinya itu mati. Keesokan harinya, turun pemberitahuan dari Allah SWT kepada Rasulullah saw yang menjelaskan kejadian tersebut. Pada hari itu juga, beliau mengumpulkan kaum Muslimin dan bersabda:
“Dengan menyebut asma Allah, aku minta orang yang melakukannya, yang sesungguhnya tindakan itu adalah hakku; mohon ia berdiri.
Kemudian (kulihat) lelaki buta itu berdiri dan berjalan dengan meraba-raba sampai dia turun di hadapan Rasulullah saw, kemudian ia duduk seraya berkata:
”Akulah suami yang melakukan hal tersebut ya Rasulullah saw. Kulakukan hal tersebut karena ia senantiasa mencela dan menjelek-jelekkan dirimu. Aku telah berusaha melarang dan selalu mengingatkannya, tetapi ia tetap melakukannya. Dari wanita itu, aku mendapatkan dua orang anak (yang cantik) seperti mutiara. Istriku itu sayang padaku. Tetapi kemarin ketika ia (kembali) mencela dan menjelek-jelekkan dirimu, lantas aku mengambil kapak, kemudian menebaskannya ke perut istriku dan menghujamkan kuat-kuat ke perut istriku dan menghujamkan kuat-kuat sampai ia mati.
Kemudian Rasululah saw. bersabda:
“Saksikanlah bahwa darahnya (wanita itu) halal (HR. Abu Dawud dan An Nasa’i)
Islam bukan Aturan yang diturunkan untuk orang Arab, akan tetapi ia merupakan aturan dari Sang Pencipta yang berlaku bagi segenap manusia yang hidup di dunia ini. Karenanya, manusia yang tinggal di Negara ini dan telah menghina Rasulullah Saw harus ditemukan dan dihukum oleh negara sesuai aturan-Nya supaya tidak ada lagi yang berani melakukan penghinaan kepada Islam dan Nabi Muhammad saw.
Cuma, Bisakah Negara Republik ini menghukum dengan AturanNya?
* * *
[Ma’had Hidayatullah, 29 Dzulqa’dah 1429 H)
Ibnu Khaldun Aljabari adalah Kadepdatin PP.Hima Persis dan
Peneliti Institute For Ideology ( INSFID)
Memahami Kebangkitan Islam


Dua puluh tujuh tahun sudah kita memasuki abad XV Hijriyah, sebuah abad – yang sempat digembar-gemborkan – sebagai abad kebangkitan Islam. Seruan bahwa abad XV adalah abad kebangkitan Islam adalah bukti bahwa umat ini – umat Islam – merindukan atmosfer Islami dalam kehidupannya. Mereka rindu Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin – rahmat bagi alam semesta secara nyata, yaitu ditegakkannya aturan Allah dalam kehidupan mereka. Sehingga tidaklah mengherankan, jika umat Islam mengidolakan Osama ibn Laden, ketika berani menunjukkan penentangan terhadap Amerika Serikat. Atau kita pernah ingat dengan Saddam Hussein dalam Perang Teluk atau Moammar Qadhafi dalam Pemboman pesawat Pan Am. Atau ketika masa reformasi, naiknya Gus Dur menjadi presiden sebagai representasi berkuasanya umat Islam di negeri ini (Indonesia). Sekali lagi … berbagai fenomena tersebut menunjukkan rindunya umat Islam akan pemimpin-pemimpin muslim yang melindungi mereka.
Tapi seiring waktu berjalan, kerinduan umat Islam akan kehidupan yang Islami – yaitu kerinduan umat akan kebangkitan Islam – hanyalah kerinduan yang emosional. Mengapa demikian? Umat Islam secara umum – mungkin inilah budaya berfikir bangsa kita atau umat secara umum – tidak memahami bagaimana bentuk kebangkitan Islam yang mereka inginkan … atau mereka bahkan tidak memahami hakekat kebangkitan itu sendiri … dan dampak daripada ketidaktahuan tersebut adalah umat tidak mengetahui dengan cara apa kebangkitan Islam diraih.
Tulisan ini mencoba memaparkan makna kebangkitan dan gambaran kebangkitan dari sudut pandang Islam.

Makna Kebangkitan
Kebangkitan dalam bahasa Arab dinyatakan dengan kata an Nahdloh yang berasal dari kata nahadlo – yanhadlu – nahdlon – nahdlotan yang berarti berdiri atau bangkit. Jadi kata nahadlo – secara bahasa – tidak berbeda dengan kata qooma yang juga bermakna berdiri. Tetapi secara istilah, kata kebangkitan (an Nadhloh) memiliki makna kemajuan, yaitu sebuah pergerakan yang berawal dari suatu kondisi menuju kondisi yang lebih baik. Sehingga muncullah istilah-istilah baru seperti: kebangkitan ekonomi, kebangkitan intelektual begitupun dalam salah satu hari yang dikenang oleh orang Indonesia adalah Hari Kebangkitan Nasional.
Sekarang mari kita lihat contoh. Nokia – produsen handphone dari Finlandia – pada awalnya adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pengelolaan hutan. Namun, karena dorongan untuk memperbaiki kondisi perusahaan, maka pemimpin perusahaan berusaha mencari peluang dan memutuskan agar Nokia berputar haluan dan memasuki dunia bisnis handphone – sebuah dunia bisnis yang sangat jauh hubungannya dengan dunia kehutanan. Hasilnya, Nokia menguasai penjualan handphone di dunia, kekayaannya berlipat ganda dibandingkan saat sebelumya. Sampai saat ini Nokia adalah produsen handphone yang paling inovatif … yang terakhir Nokia menghasilkan handphone dengan kemampuan internet dan kamera … handphone tercanggih saat ini. Sehingga tidak mengherankan, jika sebuah buku dibuat secara khusus untuk mendokumentasikan keberhasilan Nokia tersebut.
Contoh lain. Seorang siswa (atau mahasiswa), ketika mendapatkan nilai yang buruk dalam sebuah semester dan mendapatkan nilai yang spektakuler (sangat bagus, terbaik) di semester berikutnya, maka seringkali kita bertanya apa yang menjadi rahasia kesuksesannya? Jawabnya, dia mempelajari kesalahan masa lalu dan memperbaikinya.
Kedua contoh tersebut membuktikan bahwa untuk berubah tidaklah berarti kita harus menjadi orang lain secara fisik. Jika kita ingin kaya, maka kita operasi plastik seluruh tubuh kita mirip Bill Gates (pemimpin Microsoft). Tidak secara fisik kita berhasil. Kemajuan kita dari kondisi saat ini diawali oleh cara pikir kita, yaitu cara pandang kita terhadap kondisi kita sekarang, menemukan kondisi yang kita inginkan dan mempelajari cara untuk beralih dari kondisi yang buruk ke kondisi yang kita inginkan. Kita tetap kita secara fisik, tetapi cara berpikir kita lah yang berubah.
Kondisi umat Islam saat ini sangat jauh dari kemuliaan. Mereka memiliki wilayah luas, kekayaan alam melimpah dan penduduk yang besar, tetapi mereka miskin, kehidupan mereka sangat jauh dari gambaran Islam. Syeikh Sayyid Qutb dalam kitab beliau Ma’aalim fi at Thoriq (Petunjuk Jalan) pun menyatakan keheranan mengapa umat Islam ini tidak seperti generasi Sahabat ra. sebagaimana yang dikatakan oleh Allah dalam Al Qur'an bahwa umat Islam adalah umat terbaik:

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله
Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi umat manusia, kalian menyuruh berbuat segala yang baik dan melarang segala yang buruk, dan kalian beriman kepada Allah. [QS Ali Imran:104]

Umat Islam saat ini mengalami kemunduran di segala aspek kehidupannya. Penduduk yang terbelakang (bodoh), hutang negara yang besar, kekacauan politik dan kerusuhan sosial dan semua hal buruk adalah merek bagi umat Islam saat ini.
Jadi kebangkitan yang paling mendasar adalah perubahan cara berpikir. Syeikh Taqiyyuddin an Nabhani dalam buku beliau Nidhom ul-Islam (Peraturan Hidup dalam Islam) menyatakan bahwa kebangkitan manusia – tidak bisa tidak – diawali oleh cara pandang manusia kepada alam sekitarnya (manusia, kehidupan dan alam semesta). Manusia tersebut memikirkan asal-usulnya, tujuan hidupnya dan tugas yang harus dijalankannya dalam kehidupan saat ini. Dengan demikian, kebangkitan yang paling mendasar bukanlah kebangkitan ekonomi atau kebangkitan teknologi atau kebangkitan lain-lain. Kebangkitan ekonomi dan lainnya adalah bentuk fisik dari sebuah kebangkitan yang hakiki, yaitu kebangkitan berpikir … karena dengan kebangkitan berpikirlah kemajuan-kemajuan dalam hal-hal fisik bisa diwujudkan.

Kebangkitan Individu
Seorang individu dinilai orang lain berdasarkan perilakunya, bukan hanya ucapannya semata. Seringkali orang mengucapkan sesuatu yang tidak dilakukannya. Islam pun mengajarkan untuk menilai orang lain berdasarkan perilakunya. Allah SWT berfirman:

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.” [TQS. Al Baqoroh: 204]

“Mereka mengucapkan dengan lisannya apa-apa yang bukan isi hatinya.” [TQS. Al Fath: 11]

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan. Sangat besar murka Allah pada kalian yang mengatakan sesuatu yang tidak kalian lakukan.” [TQS. As Shaf: 2]

“Dan katakanlah: Berbuatlah kalian, maka Allah, RasulNya, dan kaum mukminin akan melihat perbuatan kalian tersebut.” [TQS. At Taubah:105]

Oleh karena itu, perlu dikaji faktor yang melandasi seorang manusia melakukan suatu perbuatan.
Setiap manusia akan dihadapkan kepada dua pertanyaan ketika dia akan melakukan suatu perbuatan. Yang pertama: Apakah yang akan saya lakukan ? Yang kedua: Bolehkah perbuatan ini saya lakukan ? Jika orang tersebut merasa lapar, niscaya ia akan mencari (ini yang dilakukannya) segala sesuatu yang kiranya akan menghilangkan atau meringankan rasa laparnya. Jika kemudian dia dihadapkan pada banyak pilihan: roti bakar, sate kambing, steak babi, buah-buahan, maka dia akan bertanya: mana saja yang boleh dimakan dan mana yang tidak boleh ? Setelah menjawab pertanyaan ini, dia akan menjatuhkan pilihannya. Begitupun ketika seseorang dihadapkan kepada tuntutan kebutuhan biologisnya. Pemenuhannya: dia berzina atau menikah atau bahkan dia melacur. Pertanyaan pertama sama antara seseorang dengan orang yang lain, namun untuk pertanyaan kedua akan berbeda. Pertanyaan kedua dipengaruhi oleh pemahamannya yang dibangun atas suatu pandangan hidup tertentu.
Manusia, sebagaimana dijelaskan di atas, memiliki akal. Ketika beranjak dewasa, dirinya dihadapkan kepada tiga pertanyaan mendasar: darimana dia berasal, apa yang sedang dilakukannya dalam kehidupan saat ini, dan akan kemana dia setelah kehidupan ini. Inilah permasalahan mendasar (simpul terbesar, uqdatul kubro).
Atas ketiga pertanyaan tersebut, dengan akalnya manusia mengamati alam sekitarnya dan menyimpulkan ada Sang Pencipta Yang Maha Pengatur. Dia, Sang Pencipta, menciptakan makhluk hidup, memberikan potensi kehidupan, mengilhamkan tata cara pemenuhan potensi tersebut, dan memberikan petunjuk yang benar tentang tata cara pemenuhan potensi kehidupan tadi. Dengan akalnya, seorang muslim akan sampai pada kesimpulan, bahwa Allah adalah Al Khalik, Al Qur'an Kalamullah, dan Muhammad Rasulullah. Inilah bagian pokok aqidah Islam, yang darinya digali bagian-bagian aqidah yang lain, seperti: keimanan kepada sifat-sifat Allah yang Maha, keimanan adanya malaikat, nabi dan rasul sebelum Muhammad, kitabullah sebelum Al Qur'an, hari akhir, dan taqdir.
Dengan temuan tersebut, ketiga pertanyaan mendasar akan dijawab bahwa manusia adalah makhluk Allah, yang dalam kehidupan ini wajib menjalani kehidupan dengan aturan-aturan Allah, dan dirinya akan kembali kepada Allah dengan pertanggungjawaban atas setiap perbuatannya di kehidupan ini. Jadi, kehidupan dengan alam sebelumnya memiliki hubungan penciptaan (as Shilatul Kholq) dan kehidupan dengan alam sesudahnya memiliki hubungan pertanggungjawaban (as Shilatul Hisab).
Aktivitas hidup seorang muslim wajib dilandasi oleh aqidah Islamiyah. Dia wajib menjadikan aturan Allah sebagai rambu-rambu aktivitasnya. Dia senantiasa berusaha membangun pemahamannya dengan ma’lumat (informasi) tentang Islam. Semakin faham dia akan aturan Allah, maka semakin tinggilah perilakunya dan berarti dia memiliki taraf berfikir yang meningkat.

Kebangkitan Masyarakat
Masyarakat adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi secara langgeng dan diatur oleh sebuah sistem tertentu. Interaksi yang langgeng ini hanya akan terjadi jika individu-individunya memiliki kesamaan perasaan dan pemikiran. Oleh karena itu, yang membedakan sebuah masyarakat dengan masyarakat yang lain adalah perasaan, pemikiran, dan sistem aturan yang ada didalamnya. Masyarakat yang ketiga hal tersebut dibangun atas asas kapitalisme, maka disebut sebagai masyarakat kapitalisme. Begitupun dengan masyarakat sosialisme dan Islam.
Tolok ukur rusak-tidaknya masyarakat, maju-mundurnya masyarakat, bangkit-merosotnya masyarakat, dinamis-mandegnya masyarakat serta bersatu-bercerainya masyarakat tergantung kepada kesesuaian antara sistem aturan dengan pemikiran dan perasaan umatnya, keterikatan umat terhadapnya, keyakinan umat akan kebenaran pemikiran dan sistem yang mengaturnya, dan kesadaran umat untuk melaksanakan pemikiran, perasaan, dan peraturan sistem tersebut. Ini berarti, jika sebuah masyarakat secara terpaksa menerima sebuah sistem, padahal sistem tersebut tidak diyakini dan tidak disadari kebenarannya, yaitu akibat digali dari bukan aqidahnya, maka masyarakat tersebut tidak akan mampu menjadi masyarakat yang bangkit, kokoh dan tahan lama.
Dengan kata lain, umat yang bangkit adalah umat yang perasaan, pemikiran dan sistem yang dianut dan digunakan untuk mengatur interaksi antara mereka dibangun berdasarkan aqidah mereka. Kebangkitan itu hanya akan terjadi, jika umat tersebut menerapkan aturan, pemikiran dan perasan yang terlahir dari aqidah yang diyakininya. Karena itu, umat Islam saat ini harus dikembalikan kepada aqidah Islamiyah yang kokoh dan produktif. Mereka harus dibawa kembali kepada kepercayaan bahwa aqidah Islam yang ada pada diri mereka, sebenarnya telah memiliki solusi-solusi kehidupan dalam bentuk syari’at yang adil, yang merupakan pemikiran-pemikiran yang terlahir dari aqidah Islam.

Jalan Menuju Kebangkitan
Syeikh Sayyid Qutb menggambarkan bahwa kebangkitan yang sesungguhnya adalah kebangkitan yang mencetak generasi seperti generasi sahabat ra. Ketika Rasulullah saw menemukan Umar ibn Khattab membawa lembaran Taurat, Beliau bersabda:

Demi Allah, seandainya Musa hidup saat ini bersama kalian, niscaya ia hanya diperbolehkan oleh Allah SWT untuk menjadi pengikutku [HR Abu Ya’la]

Dari hadits ini jelas bahwa Rasulullah menghendaki para sahabat bangkit hanya dengan satu sumber yang shohih, yaitu Al Qur'an, bukan dari sumber yang lain. Itu faktor pertama, faktor kedua adalah sikap sahabat yang dibina. Para sahabat memahami bahwa pembinaan oleh Rasulullah bukanlah sekedar untuk memuaskan nafsu akan pengetahuan belaka. Para sahabat mempelajari dengan sungguh-sungguh hukum Allah, karena mereka harus terikat dengannnya ketika melaksanakan aktivitas hidup dan nantinya mereka akan dihadapkan kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan aktivitas tersebut.
Kebangkitan yang hakiki adalah dengan meningkatnya taraf berfikir. Lalu, bagaimanakah jalan menuju kebangkitan tersebut?

1. Pilih kebangkitan yang benar. Pahami kebangkitan yang benar secara total dan sampaikan kepada umat. Kebangkitan yang benar adalah kebangkitan yang berdasarkan kepada Islam sebagai ideologi. Pahami Islam secara kaffah, kemudian sampaikan kepada umat dalam bentuk pembinaan dan pengkaderan. Umat dibina dengan aqidah Islam dan ide-ide yang terlahir dari aqidah tersebut, sehingga mereka meyakini betul dan menghubungkannya dengan fakta yang dihadapinya. Bila terjadi pertentangan antara ide dan fakta yang terjadi, niscaya akan timbul tuntutan untuk mengubah fakta sehingga sesuai dengan ide yang diyakininya. Atau akan terjadi benturan pemikiran. Oleh karena itu, pemahaman akan fakta dan pemecahan Islam terhadap fakta tersebut harus senantiasa dilakukan, sehingga masyarakat mampu menilai mana yang benar menurut Islam.

2. Munculnya kesadaran akan memunculkan tuntutan. Jika umat sudah bangkit, maka mereka akan menuntut agar setiap aktivitas mereka diatur dengan ideologi yang diyakininya. Dan ini akan membawa kepada kekuasaan. Namun kekuasaan bukanlah tujuan kebangkitan, tetapi ia hanyalah sebuah jalan untuk mewujudkan kebangkitan Islam, yaitu diterapkannya aturan-aturan Islam dalam kehidupan.
Wallahu a’lam bis showwab.

7 Oct 2008

Setelah Ramadhan



Belum lama berlalu, kaum muslimin berada dalam bulan yang penuh barakah. Bulan yang kaum muslimin berpuasa di siang harinya dan bertaraweh pada malam harinya. Bulan yang kaum muslimin isi dengan amal-amalan ketaatan.


Kini, bulan itu telah meninggalkan kita. Ia akan menjadi saksi dihadapan Allah swt atas segala yang telah kita perbuat pada bulan tersebut. Segala perbuatan, baik yang berupa amal ketaatan maupun kemaksiatan yang telah dilakukan. Naka sudah tidak tersisa dari bulan tersebut kecuali catatan amal yang akan diperlihatkan kepada kita pada hari akhir nanti. Firman Allah swt :


Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran : 30)


Ibarat sesorang pedagang yang telah selesai melakukan perniagaan, maka ia tentunya akan menghitung, berapa keuntungan atau kerugian yang ia dapatkan. Begitu pula kiranya yang harus dilakukan oleh kaum muslimin, orang-orang yang beriman kepada hari akhir selepas bulan Ramadhan.


Allah swt telah berjanji akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dengan berpuasa dan sholat taraweh karena iman dan mengharapkan ganjaran darinya. Dan pada bulan tersebut, Allah swt bebaskan orang-orang yang berhak untuk disiksa sehungga ia bebas darinya. Yaitu bagi mereka yang bertaubat kepadanya dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi kaum yang berfikir bermuhasabah terhadap dirinya; sudahkah bulan tersebut dijadikan saat untuk bertaubat kepada-Nya? Ataukah kemaksiatan masih berlanjut pada bulan yang penuh ampunan tersebut? Jika demikian halnya ia terancam dengan sabda Rasululah saw :


“Dan rugilah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan namun belum mendapatkan ampunan ketika berpisah dengannya.”(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi beliau mengatakan hadits hasan gharib)


Namun, bukan berate sudah tidak ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena ampunan-Nya tidaklah di bulan Ramadhan saja. Bahkan selama ajal belum sampai ke tenggorokan, kesempatan bertaubat masih terbuka lebar. Meskipun bukan beraarti seseorang boleh menunda-nundanya. Semestinyalah ia segera melakukannya. Karena kematian bisa datang dengan tiba- tiba dalam waktu yang tidak disangka-sangka. Dan seandainya seseorang mengetahui kapan waktu kematiannya, maka haruslah difahami pula bahwa taubat adalah pertolongan dan taufiq dari Allah swt. Sehingga tidak bisa seseorang memastikan dirinya akan mampu bertaubat sebelum ajal menjalaninya.


Seperti Abu Thalib, paman Nabi saw. Ia tidak bisa bertaubat di akhir hayatnya, padahal yang mengingatkannya adalah manusia terbaik di seluruh dunia yaitu Muhammad saw. Oleh karenanya bersegeralah senantiasa bertaubat atas segala dosa yang telah dilakukan sehingga kita dibersihkan kembali oleh-Nya. Firman Allah swt :


Sesungguhnya Taubat di sisi Allah hanyalah Taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang Kemudian mereka bertaubat dengan segera, Maka mereka Itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah Taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. bagi orang-orang itu Telah kami sediakan siksa yang pedih. (QS.An-Nisa : 17-18)


Adapun yang telah memanfaatkan Ramadhan dengan amal sholeh, sudah selaknyalah bersyukur kepada Allah swt dan bermohon diberikan keistiqamahan untuk melanggengkan amalan tersebut. Dan, tidak selayaknyalah kita berbangga diri atas banyaknya amalan yang telah kita lakukan bahkan merasa sebagai orang yang paling hebat. Karena kita tidak mengetahui apakah amal sholeh kita itu diterima ataukah tidak oleh Allah swt. Selain itu, tidaklah kita mampu menunaikan ibadah ketaatan kepada-Nya kecuali atas pertolongan dari-Nya.

Bahkan, apabila kita menghitung segala rahmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita dan merasa cukup dengan amalan-amalan kebaikan yang telah dilakukan, sungguh tidaklah setara. Selayaknyalah sebagai seorang abid berlaku tawadlu dan tidak merasa paling baik. Karena itulah sifat-sifat seorang yang beriman, yaitu ia dengan sungguh-sungguh beribadah kepada-Nya namun senantiasa merasa takut kepada Allah swt akan kekurangan dirinya dalam beramal. Firman Allah Swt :


Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, (QS. Al-Mu’minun : 60)


Saudaraku yang semoga dirahmati Allah swt, ketahuilah bahwa Allah swt yang kita ibadahi di bulan Ramadhan adalah yang kita ibadahi pula di luar bulan tersebut. Begitu pula rahmatnya tidaklah terputus dan berhenti dengan berlalunya bulan Ramadhan. Maka, doa yang senantiasa dipanjatkan kepada-Nya di bulan Ramadhan janganlah kita tinggalkan selepasnya. Begitu pula , tilawah al-Qur’an yang senantiasa kita lakukan pada bulan Ramadhan, janganlah kita tinggalkan setelah berlalunya bulan tersebut. Bahkan ibadah puasa pun semestinya kita lakukan meskipun diluar bulan tersebut. Karena masih banyak puasa-puasa sunnah yang memiliki keutamaan yang besar bagi orang yang melaksanakannya. Begitu juga dengan sholat malam, adalah amalan yang harus kita pertahankan, meskipun hanya mampu beberapa rakaat saja. Terjaganya shalat malam adalah salah satu sifat wali-wali Allah swt. Sebagaimana firmannya:


Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang kami berikan. (QS.As-Sajdah : 16)


Juga, bersemangatlah menjadi bagian pengemban dakwah, menyeru manusia untuk kembali kepada Islam, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah perkara yang munkar, karena jalan itulah yang akan menjadikan kita sebagai orang yang diberikan keberuntungan oleh-Nya. Sebagaimana firmannya :


Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS.Ali Imran : 104).


Terakhir, semoga amalan kita diterima Allah swt dan diberikan kekuatan untuk melanggengkan dan meningkatkannya di bulan-bulan yang akan datang . Dan mudah-mudahan Allah swt mengampuni segala kesalahan kita. [ ]


[Ibnu Khaldun Aljabari, Syawal,5, 1429 H]

Zakat dalam Islam


Niat baik ternyata tidak selalu berbuah kebaikan ketika diamalkan tanpa manajamen yang tangguh. Peristiwa Pasuruan (15/9), berkenaan dengan pembagian ‘zakat mal’ oleh keluarga H.Syaikhon kiranya menjadi gambaran atas hal tersebut. Dengan argumentasi, pembagian zakat merupakan aktifitas rutin keluarga yang telah dilakukan sejak lama dan selama ini tidak mendatangkan kendala berarti, keluarga ini mencukupkan diri mengelola pembagian zakat sendiri, mengandalkan keluarga dan pembantu-pembantu tanpa mengikutsertakan pihak keamanan.
Namun, informasi pembagian uang zakat itu ternyata telah tersiar luas. Masyarakat yang dulunya puluhan dan berasal dari daerah sekitar, sekarang telah bertambah mencapai ribuan termasuk penduduk di luar daerah. Imbasnya, hari ahad kemarin (15/6) dari ribuan orang yang mengantri zakat, 21 orang harus meninggal dunia akibat pingsan dan terinjak-injak saat mengantri. Innalillahi.

Perbincangan yang diangkat media selain tentang peristiwa meninggalnya rakyat miskin yang mengantri tersebut, adalah dengan diangkatnya zakat sebagai bahan pembahasan media. Diinformasikan oleh media massa dan elektronik, pembagian harta ini ada yang mengunakan zakat dan adapula yang menggunakan shadaqah. Bagaimana korelasi dua kata ini, dan bagaimana hukum serta kedudukan zakat dalam Islam, berikut uraiannya.

Az-Zakat Vs al-Shadaqah ?

Az-zakat adalah bentuk mashdar dari zaka, berarti namam wa zada wa shaluha ( tumbuh, bertambah, dan mengadakan perbaikan). Jadi pengertian al-zakat ialah berkah, tumbuh, bersih, dan baik. (al-Mu’jam al-Wasit, I : 398)

Adapun, secara istilah az-zakat didefinisikan sebagai Bagian dari sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah swt untuk dikeluarkan kepada para mustahiq dan untuk membersihkan diri. Jadi pertumbuhan, kebersihan, dan kesucian bukan hanya pada harta, melainkan juga pada jiwa muzakki. Allah berfirman :
        

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. ( Qs. Al-Taubah : 103. ).

Menurut al-Azhari, zakat dapat menumbuhkan materi dan jiwa orang-orang yang fakir. Dengan demikian, zakat bukan untuk mempertahankan kefakiran dan kemiskinan.

Zakat menurut syara dalam bahasa al-qur’an dan as-sunnah digunakan juga kata shadaqah sehingga al-Mawardi mengatakan : Shadaqah itu zakat dan zakat itu shadaqah, berbeda nama-nama yang diberi nama (al-Ahkam al-Sultaniah bab II : “Wilayah al-shadaqat)

Shadaqah dalam arti zakat dapat dilihat antara lain dalam ayat-ayat berikut :
 •               
Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. (Qs.al-Taubah : 58)

                         
Sesungguhnya al-shadaqat (zakat-zakat itu), hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Qs.al-Taubah : 60)


Kata shadaqah berasal dari shidqun (benar, jujur) dalam keimanan dan al-tashdiq (pembenaran) pada hari akhir. Karena itu Rasulullah saw bersabda : “Shadaqah itu adalah dalil nyata (keimanan).” (HR.Muslim).
kata al-zakat dalam al-qur’an berulang sebanyak 30 kali, 27 kali disebut seiring setelah menyebutkan kata-kata salat dalam satu ayat, dan pada satu tempat dalam konteks kalimat meskipun tidak dalam satu ayat, seperti pada QS al-Mu’minun : 2,4.
Dari 30 ayat tersebut, 8 ayat dalam surat Makkiah dan 22 ayat dalam surat Madaniah (Muhammad Fuad Abdul Baqi dalam al-Mu’jam al-Mufahras li alfazh al-Qur’an al-Karim). Kata al-shadaqat (jamak) dalam al-qur’an disebut 12 kali; semuanya adalah surat Madaniah.

Kewajiban Zakat dan Kedudukan dalam Islam

1. Dalam bentuk perintah yang jelas (sharih) :

   •           •     
Dan Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Baqarah : 110)


2. Surat at-Taubah sebagai contoh ayat Al-Qur’an yang termasuk al-Madani tentang perhatiannya terhadap zakat :

a. Perintah untuk memerangi kaum musyrikin, diikuti tiga syarat tidak memerangi
mereka.

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (TQS. Al-Taubah : 5)

b. Setelah enam ayat dalam surat itu, Allah juga berfirman mengenai kaum musyrikin:

Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. dan kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang Mengetahui. (TQS. Al-Taubah : 11)

c. Kewajiban zakat disebut dalam konteks para pemakmur masjid:

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS. Al-Taubah : 18)

d. Allah memberikan ancaman keras kepada penghimpun emas dan perak yang tidak menunaikan kewajibannya kepada Allah
:
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, Lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu." (TQS. Al-Taubah : 34-35)

Demikian kiranya bahasan tentang zakat dan kedudukannya dalam islam secara singkat. Semoga memberikan tambahan tsaqafah buat ikhwatuiman sekalian. []


[Ibnu Khaldun Aljabari, 17 Ramadhan 1429 H]