5 Oct 2010

MELANJUTKAN KEMBALI KEHIDUPAN ISLAM

Kajian Atas Upaya Meninggikan Kembali Kalimat Tauhid

Islam adalah sebuah lafadz yang tidak asing di telinga umatnya. Islam adalah ad-Din yang telah menjelaskan seluruh pemecahan problematika kehidupan. Solusi dari masalah kehidupan tersebut digali dari sumber – sumber hukum Islam, seperti yang telah Allah SWT. jelaskan bahwa

مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ

Tidak Kami lewatkan sesuatu apapun di dalam kitab (al-Qur’an) itu.

[Qs. al-An’am 6: 38]

yang dimaksud dengan al-kitab dalam ayat tersebut adalah al-Qur’an, sebagaimana ungkapan ibn Jauzi,

أنه القرآن ، روى عطاء عن ابن عباس : ما تركنا من شيء إلا وقد بيناه لكم

bahwasannya ia adalah al-Qur’an, ‘Atha meriwayatkan dari ibn ‘Abbas: tidak Kami lewatkan sesuatupun melainkan sungguh telah Kami jelaskan bagimu.

Selanjutnya beliau mengatakan,

فيكون المعنى : ما فرطنا في شيء بكم إليه حاجة إلا وبيناه في الكتاب ، إما نصاً ، وإما مجملاً ، وإما دلالة ، كقوله تعالى : { ونزلنا عليك الكتاب تِبياناً لكل شيء } [ النحل : 89 ...

maka makna (maksud dari ayat tersebut): tidak Kami lewatkan setiap perkara yang merupakan kebutuhan kamu melainkan Kami jelaskan perkara tersebut dalam al-Kitab, adakalanya tersirat, dan adakalanya mujmal dan adakalanya pula berupa isyarat, seperti firman Allah SWT : ‘Dan Kami turunkan kepada kamu al-Kitab (al-Qur’an) yang menjelaskan segala sesuatu’ [Qs. an-Nahl 89]...”

[ , 2:328 زاد المسير]

Selain al-Kitab, as-Sunnah juga merupakan sumber hukum Islam sebagaimana yang Allah SWT. firmankan,

لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan

[Qs. an-Nahl 16: 44]

Dengan demikian telah terang dan jelaslah setiap perkara yang berada dalam bingkai aturan Islam, Islam menjelaskan solusi dari setiap permasalahan kehidupan. Rasulullah saw. bersabda,

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ...

Sungguh telah aku tinggalkan kalian semua dalam kondisi terang benderang....

[Hr. Imam Ahmad, Musnad Ahmad, 37:73 no. 17606]

Sungguh aturan Islam memiliki akar yang kokoh, terjaga kaidah-kaidahnya, tidak ada kekurangan dalam apa-apa yang dipancarkan darinya dan tidak juga aturan ini berlebihan dalam penetapan aturan bagi manusia. Namun, petaka telah di alami ketika syari’at Islam dilanggar oleh umatnya yang disebabkan oleh rusaknya pemahaman umat terhadap Islam. Umat memang masih menjaga nama Islam, namun apalah artinya nama itu tetap dijaga namun isi yang terkandung di dalamnya diabaikan, dibiarkan hilang dari benaknya dan kemudian berdampak pada rusaknya amalan sehingga jauh dari keridhaan Allah SWT. Imam Ibn Jauzi mengisahkan perumpamaan ini,

فكانوا في ضرب المثل كجحا، فإن أمه قالت له: احفظ الباب، فقلعه ومشى به، فأخذ ما في الدار، فلامته أمه. فقال: إنما قلت احفظ الباب، وما قلت احفظ الدار.

dalam kondisi ini mereka seperti halnya Juha. Suatu ketika ibunya berkata kepadanya,’Jagalah pintu ini dengan baik’. Maka Juha mengambil pintu dan berangkat dengan membawa pintu (membawa pintu kemanapun dia pergi), akibatnya hilanglah apa-apa yang ada di dalam rumah. Ibunya lantas memarahinya, akan tetapi ia menjawab (tanpa merasa bersalah),’bukankah ibu meminta menjaga pintu bukannya isi rumah?’.

[, 1:37 صيد الخاطر]

Dalam perumpamaan yang tajam Syaikh Taqiyuddin juga mengungkapkan perihal umat yang telah rusak pemahamannya terhadap Islam sehingga Khilafah Islam yang merupakan kewajiban dan dengannya seluruh syari’at Islam dapat ditegakkan berhasil diruntuhkan oleh Barat. Beliau mengungkapkan,

Umat kini telah berada dalam kemunduran pemahaman yang luar biasa terhadap Islam. Oleh karena itu, kaum muslimin membutuhkan kembali pemahaman yang benar tentang Islam, sehingga dengan demikian umat kembali mengikuti jejak Nabi dan para sahabatnya.

Petaka Atas Kaum Muslimin

Alangkah baiknya kita merenungkan beberapa hadits dari Rasulullah saw. Bahwa beliau saw. pernah bersabda:

حَدَّثَنِى سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ حَدَّثَنِى زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ ». قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ »

sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke dalam lubang biawakpun kalian mengikutinya. Para sahabat bertanya,’Wahai Rasulullah, (apa yang dimaksud) Yahudi dan Nasrani?’ Beliau menjawab,’Siapa lagi (kalau bukan mereka)”

[Hr. Imam Muslim, Shahih Muslim, 17:219 no.6952]

Hadits ini bermakna umum, meliputi semua bentuk penyimpangan yang dilakukan oleh umat Islam. Imam Syathibi mengungkapkan,

وهذا عام في المخالفات، ويدل على ذلك من الحديث قوله: ((حتى لو دخلوا في جحر ضب لاتبعتموهم)).

hadits ini pengertiannya umum, meliputi semua bentuk penyimpangan, dan itu ditunjukkan oleh perkataan (sampai seandainya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian akan mengikutinya)

[Syaikh Abd. Qadir as-Saqqaf, Mukhtashar Kitab al-I’tisham Imam Syathibi, 1:8]

Dalam hadits yang lain Rasulullah saw. pernah bersabda:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

akan keluar satu golongan dari kalian yang kalian menganggap kecil shalat kalian dibandingkan shalat mereka, dan kecil puasa kalian dibanding puasa mereka, serta kecil pula amalan kalian dibanding amalan mereka, (tapi) mereka membaca al-Qur’an namun tidak sampai ke tenggorokan, mereka keluar dari ketaatan bagaikan anak panah melesat dari busurnya.

[Hr. Imam Bukhari, Shahih Bukhari, 15 :485 no.4670]

Frasa َيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ bermakna bahwa mereka merupakan orang-orang yang tidak memahami al-Qur’an. Imam Syathibi mengungkapkan

يعني لا يتفقهون فيه

“yakni: mereka tidak memahaminya”

[, 1:12الاعتصام]

Adapun frasa يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ bermakna bahwa mereka telah keluar dari ketaatan, disebutkan dalam kitab al-Mu’jam al-Wasith arti kata ad-din

خضع و ذل و أطاع

ketundukan – kepatuhan dan ketaatan

[al-Mu’jam al-Wasith, 1:637]

Hadits tersebut merupakan khabar dan peringatan bagi kaum muslimin. Dari hadits tersebut kita dapat ketahui bahwa kondisi umat mengalami kerusakan pemahaman, hal ini ditunjukkan dengan dua sisi yaitu (a) secara umum perilaku kaum muslimin telah mengikuti gaya hidup (life style) kaum selain mereka; (b) hadirnya golongan yang tidak memahami al-Qur’an, namun dipercayai oleh umat sebagai panutan. Kondisi ini tidak lain telah didorong oleh kemunduran pemahaman umat terhadap Islam, sehingga umat mengalami kemerosotan dalam kehidupan dan jauh dari kemuliaan.

Fakta yang dikhabarkan oleh Rasulullah saw. telah tampak dalam kehidupan kaum muslimin, ini adalah petaka bagi umat Islam. Kondisi seperti ini harus dirubah agar kembali hidup dalam naungan Islam, perubahan itu sebagai suatu kemestian dapat dilihat dari dua aspek: (a) secara fitrah manusia berhasrat untuk hidup dalam kebahagiaan yang menghantarkan pada kemuliaan, dengan begitu bahwa mendiamkan kondisi yang buruk tetap berlangsung merupakan perbuatan yang bertolak belakang dengan fitrah manusia itu sendiri; (b) Allah SWT. telah menghendaki manusia hidup dalam aturan Islam secara keseluruhan, Islam yang datang dari Dzat Maha Sempurna inilah yang dapat membawa manusia hidup dalam kebahagiaan sehingga menghantarkannya pada kemuliaan.

Aktivitas Dakwah Dan Kedudukan Dakwah Dalam Hukum Islam

Permasalahan yang dihadapi umat saat ini dikarenakan tidak lagi hidup dalam naungan Islam. Hal ini dikarenakan pemahaman umat telah rusak, sehingga umat tidak lagi memahami Islam dengan cemerlang dan kemudian mengambil gaya hidup dari selainnya. Dengan demikian terdapat indikasi bahwa umat tidak lagi hidup dalam nuansa pemikiran dan perasaan yang terpancar dari Islam, sebagai akibat dari ini ialah umat membiarkan aturan yang datang dari selain Islam mengatur kehidupannya. Oleh karena itu, untuk melakukan perubahan pemikiran, perasaan serta aturan yang ada ditengah-tengah kaum muslimin saat ini adalah dengan jalan dakwah.

Dakwah ialah seruan atau panggilan dengan tujuan untuk mengajak kepada suatu din atau pemikiran tertentu. Orang yang melakukan aktivitas dakwah disebut dengan ad-da’iyyah. Dalam kitab al-Mu’jam al-Wasith disebutkan

( الداعية ) الذي يدعو إلى دين أو فكرة ( الهاء للمبالغة )

(ad-da’iyyah) ialah orang yang menyeru pada din (aturan tertentu) atau suatu pemikiran (al-Ha’ sebagai lil mubalaghah)

Dengan demikian dakwah kepada Islam merupakan aktivitas untuk mengajarkan, memahamkan, dan mencerdaskan umat serta memerintahkan kepada kebaikan serta mencegah dari kemungkaran. Hal itu ditujukan agar umat kembali memiliki pemahaman yang cemerlang terhadap Islam dan beramal sesuai dengan tuntunan Islam sehingga terbentuk kekuatan pemikiran dan perasaan yang berlandaskan Islam yang dengannya umat kembali berusaha untuk melanjutkan kehidupan Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyyah.

Dakwah Islam Adalah Aktivitas Pemikiran Untuk Membentuk Pola Sikap Islami

Dakwah merupakan aktivitas pemikiran yang ditujukan untuk mewujudkan pemahaman Islam yang cemerlang, sehingga amalan umat senantiasa berlandaskan aqidah Islam. Aktivitas dakwah yang demikian dapat kita lihat dari realitas dakwah itu sendiri. Dalam sebutan lain dakwah dikatakan sebagai aktivitas memberikan nasehat. Adapun nasehat merupakan aktivitas untuk menjelaskan suatu hal, guna memberikan pemahaman kepada orang yang diberi nasehat sehingga amalannya menjadi murni dari sesuatu yang mengotorinya. Al-Khathabi seperti seperti yang dinukil ibn Rajab mengungkapkan,

قال الخطابيُّ : النصيحةُ كلمةٌ يُعبر بها عن جملة هي إرادةُ الخيرِ للمنصوح له ، قال : وأصلُ النصح في اللغة الخُلوص ، يقال : نصحتُ العسل : إذا خلصتَه من الشمع

al-Khathabi berkata: nasehat adalah kata yang menjelaskan sejumlah hal yaitu menginginkan kebaikan bagi orang yang diberi nasehat. Ia juga berkata: secara bahasa asal dari kata nasehat ialah murni, jika dikatakan ‘nashatu al-‘asala’ maka maknanya ialah memurnikan madu dari lilin.

[ibn Rajab, Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, 9:7]

Aktivitas dakwah (memberi nasehat) secara nyata merupakan aktivitas pemikiran untuk membangun pemahaman Islam ditengah-tengah umat, sehingga umat mewujudkan amalan Islam dalam seluruh aktivitas kehidupannya dan menghendaki pengaturan kehidupannya berdasarkan Islam semata. Abu Amr ibn ash-Shalah mengungkapkan,

والنصيحة كلمة جامعة تتضمن قيام الناصح للمنصوح له بوجوه الخير إرادة وفعلا

nasehat ialah kata universal yang mencakup pengerjaan oleh pemberi nasehat terhadap sejumlah kebaikan dan bentuk kecenderungan (keinginan) dan amal perbuatan

Selanjutnya beliau mengungkapkan,

والنصيحة لعامة المسلمين وهم ها هنا من عدا أولى الأمر منهم إرشادهم إلى مصالحهم وتعليمهم أمور دينهم ودنياهم وستر عوراتهم وسد خلاتهم ونصرتهم على أعدائهم والذب عنهم ومجانبة الغش والحسد لهم وأن يحب لهم ما يحب لنفسه ويكره لهم ما يكرهه لنفسه وما شابه ذلك

dan nasehat kepada seluruh kaum Muslimin adalah membimbing mereka pada kemaslahatan-kemaslahatan, mengajari mereka dalam perkara din (Islam) dan dunia, menutup aurat mereka, menutup celah mereka, menolong mereka dalam menghadapi musuh mereka, membela mereka, tidak menipu dan dengki kepada mereka, mencintai untuk mereka apa yang dicintai untuk diri sendiri, benci untuk mereka apa yang dibenci untuk diri sendiri, dan lain-lain.

[, 1:221-222صيانة صحيح مسلمibn ash-Shalah, ]

Dengan demikian dapat kita pahami dari penjelasan sebelumnya, (a) dakwah (aktivitas memberi nasehat) ialah aktivitas pemikiran dalam rangka membangun pola sikap kaum muslimin agar kembali berprilaku sesuai dengan aturan Islam dan juga mewujudkan aturan Islam dalam mengatur seluruh aspek kehidupan; (b) bahwa kondisi saat ini kaum muslimin jauh dari kemashlahatan, memiliki pemahaman yang rusak terkait dengan Islam, disaat yang bersamaan kaum muslimin menghadapi serangan-serangan tsaqafah (pemikiran) Barat yang bertentangan dengan Islam sehingga umat berada dalam kemunduran dan Islam tidak lagi diterapkan dalam kehidupan. Untuk kondisi yang demikian, maka dakwah menjadi sesuatu hal yang penting untuk diwujudkan. Rasulullah saw. pernah mengisyaratkan akan pentingnya dakwah dalam suatu masyarakat untuk menjaga kondisi pemahaman & amalan umat berdasarkan Islam, sebagaimana tertuang dalam kitab al-Hafidz al-Munziri, beliau mengungkapkan,

204 - وعن علقمة بن سعيد بن عبد الرحمن بن أبزى عن أبيه عن جده قال خطب رسول الله صلى الله عليه و سلم ذات يوم فأثنى على طوائف من المسلمين خيرا ثم قال ما بال أقوام لا يفقهون جيرانهم ولا يعلمونهم ولا يعظونهم ولا يأمرونهم ولا ينهونهم وما بال أقوام لا يتعلمون من جيرانهم ولا يتفقهون ولا يتعظون والله ليعلمن قوم جيرانهم ويفقهونهم ويعظونهم ويأمرونهم وينهونهم وليتعلمن قوم من جيرانهم ويتفقهون ويتعظون أو لأعاجلنهم العقوبة ثم نزل فقال قوم من ترونه عنى بهؤلاء قال الأشعريين هم قوم فقهاء ولهم جيران جفاة من أهل المياه والأعراب فبلغ ذلك الأشعريين فأتوا رسول الله صلى الله عليه و سلم فقالوا يا رسول الله ذكرت قوما بخير وذكرتنا بشر فما بالنا فقال ليعلمن قوم جيرانهم وليعظنهم وليأمرنهم ولينهونهم وليتعلمن قوم من جيرانهم ويتعظون ويتفقهون أو لأعاجلنهم العقوبة في الدنيا فقالوا يا رسول الله أنفطن غيرنا فأعاد قوله عليهم فأعادوا قولهم أنفطن غيرنا فقال ذلك أيضا فقالوا أمهلنا سنة فأمهلهم سنة ليفقهوهم ويعلموهم ويعظوهم ثم قرأ رسول الله صلى الله عليه و سلم هذه الآية لعن الذين كفروا من بني إسرائيل على لسان داود وعيسى ابن مريم المائدة 78 الآية

dari ‘Alqamah ibn Sa’id ibn ‘Abd al-Rahman ibn Abza, dari ayahnya, bahwasannya kakeknya berkata,’pada suatu khutbah Rasulullah saw menyinggung perihal kelompok umat Islam yang tidak (enggan) memberikan pemahaman kepada orang lain, tidak (enggan) mengajarkan mereka, dan tidak (enggan) berusaha mencerdaskan mereka, tidak (enggan) memerintahkan mereka berbuat baik dan tidak (enggan) mencegah mereka dari kemungkaran. Disamping ini, ada yang tidak (enggan) belajar orang lain, tidak (enggan) mencari pemahaman, dan tidak (enggan) meminta nasehat. Demi Allah, suatu kaum (bagian dari umat Islam) hendaknya mengajari kaum yang lain, memberikan mereka pemahaman, dan mencerdaskan mereka, memerintahkan mereka berbuat baik serta mencegah mereka dari kemungkaran. Selain itu hendaknya suatu kaum (bagian dari umat Islam) mau belajar dari kaum lain (yang lebih faqih), berusaha mencari pemahaman dari mereka dan mendengarkan nasehat mereka. Karena jika tidak demikian, maka mereka mengharapkan agar disegerakan hukuman (dari sisi Allah). Kemudian beliau turun (dari mimbar). Berkata para hadirin,’golongan siapakah yang disinggung Rasulullah?’ Hadirin yang lain menjawab,’Asy’ariyyin, mereka adalah kauum yang faqih sementara tetangga mereka adalah kaum pedalaman yang berprilaku kasar.’ Perkataan ini didengar oleh asy’ariyyin, kemudian mereka langsung mendatangi Rasulullah saw. dan bertanya,’Wahai Rasulullah, mengapa engkau memuji suatu kaum dengan kebaikan dan engkau sebut kami kaum yang tidak baik.’ Rasulullah saw. menjawab,’hendaknya suatu kaum (yang faqih) mengajarkan kaum yang lain, mencerdaskan mereka, memerintahkan mereka berbuat baik dan mencegah mereka dari kemungkaran dan hendaknya suatu kaum belajar kepada kaum lain (yang lebih faqih), mendengarkan nasehat mereka dan mencari pemahaman dari mereka. Jika tidak demikian mereka mengharapkan hukuman (dari sisi Allah) di dunia’. Mereka berkata,’apakah kami harus mencerdaskan orang lain?’ Rasulullah saw. mengulangi sabdanya, mereka berkata lagi,’apakah kami harus mencerdaskan orang lain?’ Rasulullah saw. kembali mengulangi sabdanya. Mereka akhirnya berkata,’berilah kamu waktu satu tahun’. Maka Rasulullah saw. memberi mereka waktu satu tahun untuk memahamkan orang lain, mengajari mereka dan mencerdaskan mereka. Kemudian Rasulullah saw. membacakan ayat 78 al-Ma’idah,’Orang-orang kafir Bani Israil telah mendapatkan laknat (dari Allah) melalui isan Daud dan Isa ibn Maryam...’

[al-Hafidz al-Munziri, al-Targhib wa al-Tarhib, 1:71-72 no.204]

Aktivitas ini harus benar-benar hidup dalam masyarakat. Para pengembang dakwah dengan santun mengembalikan kebenaran bagi siapa saja yang berpaling dari kebenaran dalam perkataan dan perbuatan, lemah lembut dalam amar ma’ruf dan nahi munkar karena ingin menghilangkan kerusakan mereka meskipun untuk itu semua para pengemban dakwah mengalami beban atau kerugian, salah seorang dari generasi Salaf mengungkapkan

قال بعضُ السَّلف : وددتُ أنَّ هذا الخلق أطاعوا الله وأنَّ لحمي قُرِضَ بالمقاريضِ

berkata seseorang dari generasi Salaf: aku menghendaki manusia taat kepada Allah meskipun untuk itu dagingku dipotong dengan gunting

[ibn Rajab, Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, 9:11]

Dakwah Sebuah Kewajiban Dari Dzat Yang Maha Mulia

Allah SWT. telah menetapkan bahwa dakwah merupakan kewajiban. Kewajiban ini juga merupakan kewajiban yang diemban oleh para Nabi dan Rasul. Sehingga dengan melaksanakannya merupakan jalan meraih kemuliaan dari Allah SWT. Dalam al-Qur’an, Allah berfirman,

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

Rasul-Rasul mereka berkata kepada mereka,’Sesungguhnya kami tidak lain adalah manusia biasa seperti kalian. Akan tetapi, Allah telah memberikan karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya’.”

[Qs. Ibrahim 14: 11]

Karunia yang diperoleh oleh oleh para Nabi dan Rasul beserta orang-orang yang menjadi pengikut mereka adalah nubuwwah dan risalah yang mereka emban. Dengan karunia tersebut mereka mendapatkan kemuliaan dari Dzat Yang Maha Mulia. Imam ibn Katsir mengungkapkan,

{ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ } أي: بالرسالة والنبوة

“frasa {Akan tetapi, Allah telah memberikan karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hambaNya} adalah dengan mengemban risalah dan nubuwwah”

[, 4:483 تفسير القرآن العظيم]

Hal ini juga dipahami oleh para Sahabat Rasulullah saw, dalam kitab ibn Abi ad-Dunya diungkapkan

36 - حدثنا عبد الله ، نا خلف بن هشام ، نا حزم بن أبي حزم ، قال : سمعت الحسن ، يقول : إن رجلا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « والذي نفسي بيده ، لئن شئتم لأقسمن لكم بالله ، أن أحب عباد الله الذين يحببون الله إلى عباده ، ويسعون في الأرض بالنصيحة »

berkata al-Hasan: salah seorang dari Sahabat Rasulullah saw berkata,’Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, jika kalian menghendaki, aku pasti akan bersumpah dengan nama Allah untuk kalian bahwa sesungguhnya hamba-hamba Allah yang paling dicintai-Nya ialah hamba-hamba yang membuat manusia cinta Allah dan membuat Allah cinta kepada hamba-hamba-Nya, serta mereka menyebarkan nasehat di bumi.’ .

[, 1: 50 no.36الأولياء]

Kewajiban dakwah dalam Islam dapat dilihat dari adanya pujian terhadap pengemban dakwah dan celaan bagi mereka yang meninggalkan aktivitas ini. Allah SWT. berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru manusia menuju Allah, dan beramal dengan amalan shalih serta berkata sesungguhnya saya adalah kaum muslimin.

[Qs. Fushshilat 41: 33]

Imam Qurthubi menukil perkataan Imam Hasan al-Bashri mengenai ayat ini,

وكان الحسن إذا تلا هذه الآية يقول: هذا رسول الله، هذا حبيب الله، هذا ولي الله، هذا صفوة الله، هذا خيرة الله، هذا والله أحب أهل الأرض إلى الله، أجاب الله في دعوته، ودعا الناس إلى ما أجاب إليه.

Pendapat Hasan al-Bashri: bahwasannya ayat : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru manusia menuju Allah, dan beramal dengan amalan shalih serta berkata sesungguhnya saya adalah kaum muslimin.Mereka adalah Rasulullah, kekasih Allah, wali Allah dan pilihan Allah; mereka penduduk Bumi yang paling dicintai Allah, menunaikan kewajiban Allah dalam dakwahnya dan menyeru manusia kepada apa-apa yang diwajibkan Allah dengan dakwah.

[, 15:360 تفسير القرطبي]

Ayat ini menunjukkan kedudukan para pengemban dakwah yang mulia di sisi Allah SWT., karena mereka menyeru ke jalan Allah, memahamkan dan mencerdaskan mereka, memerintahkan umat berbuat kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Aktivitas dakwah merupakan aktivitas para Nabi dan Rasul, juga pengikut-pengikut mereka yang telah Allah SWT. wajibkan bagi mereka semua.

Dalam ayat lain, Allah SWT. telah melaknat bagi setiap manusia yang menyembunyikan kebenaran, Allah SWT. berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah kami jelaskan kepada manusia dalam al-Kitab (al-Qur’an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat oleh makhluk-makhluk yang melaknat.

[Qs. al-Baqarah 2:159]

Ayat ini turun berkenaan dengan ihwal ahli kitab dari Yahudi dan Nasrani yang menyembunyikan kebenaran, namun ayat ini diperuntukkan kepada setiap orang yang menyembunyikan ayat-ayat Allah, yang menyembunyikan hukum-hukum Allah. Dua hujjah yang menyatakan bahwa ayat ini umum, yaitu (a) sejalan dengan kaidah ushul,

العبرة بعمم اللفظ لا بخصوص السبب

yang menjadi pegangan ialah umumnya lafadz, bukan khususnya sebab

(b) menggunakan isim maushul (الَّذِينَ يَكْتُمُونَ = mereka yang menyembunyikan), ini termasuk lafadz yang menunjukkan arti umum. Dengan demikian, ayat ini mengena kepada setiap orang yang menyembunyikan ilmu tentang din Allah, yang dibutuhkan untuk dakwah, sebagaimana sabda Rasulullah saw.

وأخرج عبد بن حميد والترمذي وابن ماجه والحاكم عن أبي هريرة " أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : من سئل عن علم عنده فكتمه ألجمه الله بلجام من نار يوم القيامة "

Barang siapa ditanya tentang sesuatu ilmu kemudian ia menyembunyikannya, maka ia pada hari Kiamat nanti akan dikendalikan dengan kendali dari Api Neraka.

[Imam Suyuthi, ad-Durrul Mantsur, 1:392]

Bentuk celaan yang digunakan menunjukkan bahwa perkara tersebut adalah dosa yang besar, Abu Hayyan mengungkapkan,

واستحقوا هذا الأمر الفظيع من لعنة الله ولعنة اللاعنين على هذا الذنب العظيم

Dan atas perkara yang mengerikan ini (amalan yang amat buruk ini) berhak mendapat laknat Allah dan makhluk yang bisa melaknat dikarenakan dosa yang besar dari mereka.”

[, 2:102 تفسير البحر المحيط]

Celaan disini menjadi qarinah (indikasi) perihal keharaman perilaku tersebut.

Selain di dalam al-Qur’an, kita juga akan menjumpai perintah untuk berdakwah dalam hadits. Kewajiban untuk menyampaikan risalah, memahamkan umat, memerintahkan mereka berbuat kebajikan dan mencegah mereka berbuat kemungkaran. Rasulullah saw. pernah bersabda,

2881 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ عَنِ ابْنِ ثَوْبَانَ هُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِى كَبْشَةَ السَّلُولِىِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً...

Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat...

[Hr. At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, 10:181 no.2881]

Dalam hadits lain, Rasulullah saw. juga pernah bersabda,

6980 - حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ - يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ - عَنِ الْعَلاَءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا...

Siapa saja yang menyeru manusia pada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala sebesar yang diperoleh oleh orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka

[Hr. Muslim, Shahih Muslim, 17:250 no.6980]

Dengan demikian dapat kita pahami bahwa dakwah (aktivitas memberikan nasehat) adalah aktivitas pemikiran untuk membentuk pola sikap Islami yang diwajibkan dalam Islam. Para sahabat Rasulullah saw. memahami hal ini sehingga mereka memberikan anjuran kepada kaum muslimin untuk saling kunjung-mengunjungi dan saling memantapkan pemahaman terhadap Islam. Ali ibn Abi Thalib pernah memberikan pesan seperti yang dinukil oleh al-Khatib al-Baghdady sebagai berikut

189 - أخبرنا أبو الحسين علي بن أحمد بن إبراهيم البزاز بالبصرة ، قال : حدثنا أبو علي الحسن بن محمد بن عثمان الفسوي ، قال : حدثنا يعقوب بن سفيان ، قال : حدثنا عبد الرحمن بن حماد الشعيثي ، قال : حدثنا كهمس ، عن عبد الله بن بريدة ، قال : قال علي بن أبي طالب عليه السلام : تزاوروا وتذاكروا الحديث . فإنكم إن لا تفعلوا يدرس

saling berkunjunglah dan lakukan mudzakarah al-hadits. Jika tidak kamu melakukan hal itu maka hadits akan hilang (dari benak kamu)

[al-Khatib a-Baghdadiy, Syaraf Ashhab al-Hadits, 1:238]

Oleh karena itu, sebagai kaum muslimin sudah seharusnya menghidupkan aktivitas dakwah. Aktivitas yang merupakan kewajiban dalam Islam, dengan tujuan untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam.

Aktivitas Dakwah Para Sahabat

Aktivitas dakwah yang diemban oleh para sahabat Rasulullah saw. mencerminkan beberapa karakteristik yang khas. Aktivitas pemikiran yang ditujukan untuk membentuk pola sikap Islami ini dilakukan dengan keikhlasan, keseriusan, tidak menunda-nunda waktu, sikap terus terang, keberanian, kekuatan dan pemikiran. Menentang setiap yang bertentangan dengan Islam, menghadapi dengan menjelaskan kerusakan-kerusakannya tanpa kompromi dan tidak takut atas apa yang akan menimpa dirinya.

Keikhlasan dan keseriusan merupakan hal yang harus ada pada para pengemban dakwah. Al-Fudhail ibn Iyad pernah berkata,

قال الفضيلُ في قوله تعالى : { لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً } ، قال : أخلصُه وأصوبُه . وقال : إنَّ العملَ إذا كان خالصاً ، ولم يكن صواباً ، لم يقبل ، وإذا كان صواباً ، ولم يكن خالصاً ، لم يقبل حتّى يكونَ خالصاً صواباً ، قال : والخالصُ إذا كان لله - عز وجل - ، والصَّوابُ إذا كان على السُّنَّة

berkata al-Fudhail terkait ayat Allah SWT {Siapa di antara kamu yang baik amalannya}, ia berkata: adalah yang ikhlas dan benar dalam amalannya. Sungguh ketika suatu amalan dilakukan dengan ikhlas tapi tidak benar (sesuai petunjuk) maka tidak akan diterima. Dan ketika amalan tadi benar (sesuai petunjuk) tapi tidak ikhlas maka tidak akan diterima juga, hingga suatu amalan dilaksanakan dengan ikhlas dan benar. Ikhlas adalah ketika kita mengharapkan ridha Allah dan benar ketika kita mengikuti sunnah Rasulullah saw.

[ibn Rajab, Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, 3:20]

Aktivitas dakwah juga dilakukan dengan tidak menunda-nunda waktu, karena sesungguhnya waktu sangatlah berharga. Mengisi waktu dengan sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT. akan memberikan berbagai kenikmatan pada kita kelak. ibn Jauzi pernah mengungkapkan,

فكم يضيع الآدمي من ساعات يفوته فيها الثواب الجزيل، وهذه الأيام مثل المزرعة، فكأنه قيل للإنسان. كلما بذرت حبة أخرجنا لك ألف كر، فهل يجوز للعاقل أن يتوقف في البذر ويتوانى.

betapa banyak anak Adam menghabiskan waktu dengan sia-sia sehingga terlepas banyak pahala darinya. Hari-hari di dunia ini seperti ladang dan seakan-akan berkata pada manusia,’ setiap engkau menanam satu biji akan kami tumbuhkan seribu.’ Oleh sebab itu, wajarkah bagi orang yang berakal untuk berhenti menanam dan berleha-leha?

[, 1:162 صيد الخاطر]

Berikut beberapa aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah saw., tampak darinya kekhasan dakwah yang dilakukan oleh mereka. Dalam kitab ibn Qayyim diungkapkan kisah ibn ‘Abbas yang mendakwahi kaum khawarij, dalam dialog tersebut tampak bahwa ibn ‘Abbas meluruskan pemahaman mereka sehingga banyak dari kaum khawarij yang kembali berprilaku Islami, berikut kisah tersebut

وقال عبد الله بن المبارك حدثنا عكرمة بن عمار ثنا سماك الحنفي قال سمعت ابن عباس يقول قال علي لا تقاتلوهم حتى يخرجوا فإنهم سيخرجون قال قلت يا أمير المؤمنين أبرد بالصلاة فإني أريد أن أدخل عليهم فأسمع من كلامهم وأكلمهم فقال علي أخشى عليك منهم قال وكنت رجلا حسن الخلق لا أوذي أحدا قال فلبست أحسن ما يكون من اليمنية وترجلت ثم دخلت عليهم وهم قائلون فقالوا لي ما هذا اللباس فتلوت عليهم القرآن قل من حرم زينة الله التي أخرج لعباده والطيبات من الرزق ولقد رأيت رسول الله ص - يلبس أحسن ما يكون من اليمنية فقالوا لا بأس فما جاء بك فقلت أتيتكم من عند صاحبي وهو ابن عم رسول الله ص - وختنه وأصحاب رسول الله ص - أعلم بالوحي منكم وعليهم نزل القرآن أبلغكم عنهم وأبلغهم عنكم فما الذي نقمتم فقال بعضهم إن قريشا قوم خصمون قال الله عز و جل بل هم قوم خصمون فقال بعضهم كلموه فانتحى لي رجلان رجلان أو ثلاثة فقالوا إن شئت تكلمت وإن شئت تكلمنا فقلت بل تكلموا فقالوا ثلاث نقمناهن عليه جعل الحكم إلى الرجال وقال الله إن الحكم إلا لله فقلت قد جعل الله الحكم من أمره إلى الرجال في ربع درهم في الأرنب وفي المرأة وزوجها فابعثوا حكما من أهله وحكما من أهلها أفخرجت من هذه قالوا نعم قالوا وأخرى محا نفسه أن يكون أمير المؤمنين فإن لم يكن أمير المؤمنين فأمير الكافرين هو فقلت لهم أرأيتم إن قرأت من كتاب الله عليكم وجئتكم به من سنة رسول الله ص - أترجعون قالوا نعم قلت قد سمعتم أو أراه قد بلغكم أنه لما كان يوم الحديبية جاء سهيل بن عمرو إلى رسول الله ص - فقال النبي ص - لعلي اكتب هذا ما صالح عليه محمد رسول الله ص - فقالوا لو نعلم أنك رسول الله لم نقاتلك فقال رسول الله ص – لعلي امح يا علي أفخرجت من هذه قالوا نعم قال وأما قولكم قتل ولم يسب ولم يغنم أفتسبون أمكم وتستحلون منها ما تستحلون من غيرها فإن قلتم نعم فقد كفرتم بكتاب الله وخرجتم من الإسلام... قال فرجع منهم ألفان وبقي ستة آلاف

Abdullah ibn Mubarrak berkata: Ikrimah ibn Amar bercerita kepada saya tentang riwayat yang diterima dari Samak al-Hanafi, ikrimah berkata,’Aku mendengar ibn ‘Abbas berkata bahwa Ali menyampaikan pesan: kamu semua (kepada pasukan perang Ali) jangan membunuh mereka (orang-orang khawarij) sehingga mereka menyatakan keluar, sebab mereka semua akan keluar.’ Saya (ibn ‘Abbas) berkata kepada Ali: Wahai Amirul Mukminin, percepatlah salat (berjama’ah), saya ingin menemui mereka untuk mendengarkan ucapannya serta berdiskusi dengan mereka. Ali berkata,’Saya khawatir terjadi sesuatu padamu!’ Saya menjawab: saya selalu berbaik hati dan tidak menyakiti seseorang. Kemudian saya menggunakan pakaian yang lebih bagus dibanding sutera Yaman dan pergi mengunjungi mereka. Mereka bertanya kepada saya,’kenapa anda menggunakan pakaian seperti ini?’ maka saya membaca ayat al-Quran ‘katakan olehmu (Muhammad) siapa orang yang berani mengharamkan perhiasan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya dan makanan-makanan yang enak dan baik dari rezeki-Nya?(Qs.7:32)’ selain membaca ayat tersebut saya berkata,’sungguh saya melihat Rasulullah saw. pernah memakai pakaian yang lebih bagus dibanding sutera Yaman.’ Mereka (kaum khawarij) berkata: kalau begitu tidak apa-apa. Namun apa maksud kedatangan anda?. Saya menjawab,’kedatangan saya didahului pertemuan dengan Ali, dia adalah anak paman Rasulullah saw. yang lebih mengetahui tentang wahyu dibanding anda sekalian. Saya ingin menjelaskan tentang dia dan menjelaskan keadaan anda kepadanya. Kenapa anda berni menyatikinya?’. Kemudian sebagian dari mereka berkata bahwa orang-orang Quraisy adalah orang yang suka berdebat dengan alasan firman Allah,’Mereka adalah kaum yang suka beradu mulut (Qs. 43:58)’. Setelah itu datang dua orang bahkan tiga orang yang menghampiri saya dan berkata,’Silahkan, apakah anda yang berbicara dulu atau kami yang lebih dulu?’. Saya menjawab: anda yang lebih dahulu berbicara. Maka mereka mulai berkata,’ada tiga hal yang membuat kami menyakiti Ali. (pertama) Ali menyerahkan hukum kepada manusia bukan Allah, sedangkan Allah berfirman: tidak ada yang berhak memutuskan hukum kecuali Allah’ saya berkata,’perlu anda ketahui bahwa Allah menyerahkan hukum kepada manusia dalam beberapa hal seperti mengganti dengan ¼ dirham terhadap denda membunuh kelinci bagi yang ihram, menyelesaikan persengketaan seorang wanita dengan suaminya sebagaimana dalam firman Allah: Maka, engkau sekalian mengutus penengah dari keluarga laki-laki dan penengah dari keluarga wanita (Qs.4:35)’ Apakah telah keluar (kalian) dari hal ini? Mereka menjawab: benar. Mereka melanjutkan (kedua),’berkenaan dengan sikap Ali sebagai amirul mukminin, yang menghentikan perang melawan musuh dan menyepakati perdamaian yang ditawarkan musuh menjadikannya amirul kafirin.’ Mendengar ungkapan ini saya berkata kepada mereka,’kalau saya membaca ketentuan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, apakah anda semua akan menerimanya?’ mereka menjawab,’jelas (kami menerimanya)’. Saya melanjutkan,’apakah anda masih ingat kejadian Hudaibiyah? Saat itu Suhail ibn Amar datang kepada Rasulullah saw. (untuk mengadakan perdamaian), Rasulullah saw. berkata kepada Ali: tolong catat kata-kata ini...pada hari ini Muhammad Rasulullah telah mengadakan perdamaian. Kemudian berkata orang Quraisy (kafir Quraisy): jika kami tahu bahwa engkau utusan Allah, kami tidak akan memerangimu wahai Muhammad. Maka Rasulullah saw berkata kepada Ali: hapus kata-kata itu. Apakah kalian telah keluar dari hal ini?’. Mereka menjawab,’benar’. Ibn ‘Abbas berkata,’Masalah ketiga yang anda sampaikan adalah keberatan anda karena Ali tidak membunuh, mencerca dan tidak mengambil harta rampasan musuh pada perang Jamal. Apakah anda rela mencerca dan membunuh ibu anda sendiri (‘Aisyah ikut dalam perang Jamal melawan Ali)? Atau anda akan menghalalkan darahnya seperti menghalalkan darah yang lainnya? Jika anda menjawab ‘ya’ berarti anda telah kufur terhadap Allah dan keluar dari Islam... setelah mendapat penjelasan demikian, dua ribu orang Khawarij kembali (bertaubat) dan yang tersisa hanya enam ribu.

[, 1:214-215إعلام الموقعين عن رب العالمين]

Dalam musnad imam Ahmad dikisahkah kisah mengenai Umar ibn Khattab yang mendakwahi para tentara muslim yang berjuang. Ketika mereka berada dalam kondisi tertekan, Umar mengingatkan kaum Muslimin akan janji pertolongan yang Allah SWT. berikan sehingga menguat kembali pemahaman dan tampil dengan gagah berani sehingga pada perang Yarmuk, setelah mengalami tekanan yang amat mengerikan kaum Muslimin mengalami kemengangan besar. Berikut riwayat yang menceritakan dakwahnya Umar kepada para tentara kaum Muslimin yang sedang berperang,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سِمَاكٍ قَالَ سَمِعْتُ عِيَاضاً الأَشْعَرِىَّ قَالَ شَهِدْتُ الْيَرْمُوكَ وَعَلَيْنَا خَمْسَةُ أُمَرَاءَ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَيَزِيدُ بْنُ أَبِى سُفْيَانَ وَابْنُ حَسَنَةَ وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ وَعِيَاضٌ - وَلَيْسَ عِيَاضٌ هَذَا بِالَّذِى حَدَّثَ سِمَاكاً - قَالَ وَقَالَ عُمَرُ إِذَا كَانَ قِتَالٌ فَعَلَيْكُمْ أَبُو عُبَيْدَةَ. قَالَ فَكَتَبْنَا إِلَيْهِ إِنَّهُ قَدْ جَاشَ إِلَيْنَا الْمَوْتُ وَاسْتَمْدَدْنَاهُ فَكَتَبَ إِلَيْنَا إِنَّهُ قَدْ جَاءَنِى كِتَابُكُمْ تَسْتَمِدُّونِى وَإِنِّى أَدُلُّكُمْ عَلَى مَنْ هُوَ أَعَزُّ نَصْراً وَأَحْضَرُ جُنْداً اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَاسْتَنْصِرُوهُ فَإِنَّ مُحَمَّداً -صلى الله عليه وسلم- قَدْ نُصِرَ يَوْمَ بَدْرٍ فِى أَقَلِّ مِنْ عِدَّتِكُمْ فَإِذَا أَتَاكُمْ كِتَابِى هَذَا فَقَاتِلُوهُمْ وَلاَ تُرَاجِعُونِى

“...Sungguh aku ingatkan kepada kalian, bahwa yang berkuasa memberikan pertolongan dan yang lebih cepat memberikan bala tentara ialah Allah ‘Azza wa Jalla. Maka mintalah pertolongan kepada-Nya, sesungguhnya Muhammad saw. pernah ditolong-Nya pada perang Badr, dimana pasukannya lebih sedikit dari pasukan kamu pada perang Yarmuk ini. Jika telah sampai suratku ini maka terus perangi mereka dan jangan meminta pertolongan kepadaku.

[Hr. Ahmad, musnad Ahmad, 1:355, no.351]

Selanjutnya, dalam sunan ibn Majah diungkapkan perihal aktivitas dakwah Ubadah ibn Shamit kepada manusia yang melakukan aktivitas riba, berikut riwayat tersebut

حدثنا هشام بن عمار حدثنا يحيى بن حمزة حدثني برد بن سنان عن إسحاق ابن قبيصة عن أبيه أن عبادة بن الصامت الأنصاري النقيب صاحب رسول الله صلى الله عليه و سلم غزا مع معاوية أرض الروم . فنظر إلى الناس وهم يتبايعون كسر الذهب بالدنانير وكسر الفضة بالدراهم . فقال يا أيها الناس إنكم تأكلون الربا

: - سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ( لا تبتاعوا الذهب بالذهب إلا مثلا بمثل . لا زيادة بينهما ولا نظرة ) فقال له معاوية يا أبا الوليد لا أرى الربا في هذه إلا من كان نظرة . فقال عبادة أحدثك عن رسول الله صلى الله عليه و سلم وتحدثني عن رأيك لئن أخرجني الله لا أساكنك بأرض لك علي فيها إمرة . فلما قفل لحق بالمدينة . فقال له عمر بن الخطاب ما أقدمك يا أبا الوليد ؟ فقص عليه القصة وما قال من مساكنته . فقال ارجع يا أبا الوليد إلى أرضك . فقبح الله أرضا لست فيها وأمثالك . وكتب إلى معاوية لا إمرة لك عليه . واحمل الناس على ما قال فإنه هو الأمر

ketika Ubadah ibn Shamit melihat aktivitas manusia yang melakukan pertukaran antara pecahan-pecahan emas dengan dinar dan pecahan-pecahan perak dengan dirham, Ubadah ibn Shamit berkata,’Wahai manusia sesungguhnya kalian telah melakukan riba ! saya mendengar Rasulullah saw. bersabda,’Janganlah kalian berjual beli dengan emas, kecuali sepadan, tak ada kelebihan diantara keduanya dan tidak ada penundaan’. Lalu Muawiyah berkata kepadanya: ‘wahai abu al-Walid, aku tidak melihat adanya riba dalam jual beli ini, kecuali yang mengandung penundaan’. Ubada berkata: ‘Aku mengatakan kepadamu dari Rasulullah saw., sementara engkau mengatakan kepadaku dari pendapatmu sendiri. Sungguh, jika Allah telah mengeluarkanku, aku tidak akan tinggal di daerah yang di sana kamu akan memimpinku’. Setelah kembali, Ubadah menuju Madinah dan bertemu dengan Umar ibn Khattab. Lalu Umar bertanya kepadanya:’Apa yang kamu hadapi, wahai Ab al-Walid?’ Lalu ia menceritakan kejadian tersebut kepada Umar, dan bagaimana ia hendak memilih tempat tinggal. Kemudian berkata Umar kepada Ubadah: ‘’ kembalillah dan sungguh Allah SWT. akan mengacaukan suatu daerah yang di sana tidak dihuni oleh dirimu dan orang-orang seperti kamu’. Umar juga berkirim surat kepada Muawiyah:’kamu tidak berhak memimpin Ubadah, dan suruh orang-orang mengikuti apa yang Ubadah katakan, karena apa yang disampaikannya itulah yang harus diikuti.’

[Hr. Ibn Majah, Sunan ibn Majah, 1:8, no. 18]

Itulah beberapa riwayat yang menunjukkan aktivitas dakwah para sahabat. Aktivitas ini mencerminkan keikhlasan, keseriusan, tidak menunda-nunda waktu, sikap terus terang, keberanian, kekuatan dan pemikiran. Sehingga memberikan pengaruh kepada orang yang didakwahi, dimana orang tersebut menjadi paham akan kebenaran dan kemudian mereka beramal berdasarkan pemahaman yang benar dengan dilandasi oleh landasan yang kokoh yaitu Islam.

20 Sept 2010

Renungan Masa Silam

Anda akan merasa bahagia ketika anda dekat dengan seseorang yang anda cintai, dan keterpisahan dengannya pun akan terasa seperti membakar diri dan perasaan anda dan menginginkan pertemuan kembali dengannya. putaran sunnatullah antara ada dan tiada tidak akan mungkin ada jika tidak diciptakannya bumi ini. dan karena itulah lebih tepatnya kenapa bumi tiba-tiba meloncat seperti maju kedepan dalam permulaan taqdir kehidupan, jika anda amati disekitar diri anda secara seksama, maka setiap orang mempunyai ambisi yang sangat kuat akan sesuatu.

jika anda melihat diri anda sendiri, anda akan menemukan bahwa diri anda mempunya keinginan yang kuat untuk bertemu dengan sang Pencipta ( Alloh subhanahu wata’la).

Dan sebagai konsekwensi dari hal itulah maka bumi ini ada, dimanapun bisa anda saksikan betapa bahagianya segala sesuatu ketika menerima hadiah berupa keberadaan atau keberwujudannya di alam semesta ini. diciptakannya bulan dan bintang untuk saling padu dalam peredarannya dan masih banyak lagi bintang-bintang yang berkilauan diatas langit. Ditempatkannya matahari diatas langit biru dan pantulan sinarnya yang kemilau menerangi bumi diawal pagi, menghidupi segala sesuatu yang ada dibumi dan melahirkan kehidupan baru.

Bumi, bagaimanapun gambarannya, kala itu merupakan sebuah dataran yang terhampar luas. ketika itu gurun pasir masih kosong dan sepi dari lalu lalang kendaraan. dan tidak ada satupun danau yang memancar dari pegunungan, begitu juga tak ada kabut dalam hutan belantara. dan tidak ada terdengar kicauan burung di ketinggian ranting setiap pohon, serta tak satupun rusa terlihat loncat dan berlarian dipadang rumput.

ketika itu dataran dan lautan tak se-indah nan erotik seperti yang kita saksikan saat ini, ketika itu bumi dan seisinya hanya berbentuk gumpalan asap. Tumbuh-tumbuhan telah menyaksikan musim semi yang kemudian layu dan mati ditelan lapisan bumi.
langit biru diatas kepala menertawakan bumi layaknya orang yang ditimpa kesedihan dan putus harapan. tapi hal itu membuat suramnya bumi berubah menjadi kesenangan;
“tidak pernah kusaksikan seseorang sepertimu sebelumnya” kata langit kepada bumi, dan selanjutnya menambahkan bahwa bumi telah diciptakan buta nan gelap sejak tanpa adanya sinar bintang, dan sinar itupun pinjaman dari matahari. bulan dan bintang di atas langit.

Bumi merasa tersiksa, dan keluhan itu didengungkannya dengan nada kelemahan. tangisan itu tidak bisa dilupakan begitu saja, nun jauh dari surga , dari segala penjuru alam semesta merespon keluhan bumi; “ kamu sebetulnya tidak menyadari amanah dan kepercayaan yang telah AKU berikan kepadamu,” kata suara dari kejauhan. “ Janganlah putus asa, dan lihatlah secara seksama makluk hidup (manusia) akan tercipta dari bagian dirimu (tanah liat). nyawa itu akan diberikan kehidupan oleh sang maha Pencipta cahaya, bukan dari sinar matahari, bulan ataupun bintang. dia akan mempunyai kemampuan untuk menaklukkan alam semesta ini dari hasil akal, pemahaman serta kecerdasannya. Cinta-Nya lah yang akan membuat pertolongan manusiatahan dari terpaan waktu dan tempat ketika datang hari pertanggung jawaban (Qiamat) akan menentukan manakah jalan yang benar. kebijaksanaan-Nya akan melebihi seorang Jibril. hal itu niscaya akan sirna menjadi debu akan tetapi kenaikan itu tidak lebih dari hanya kepakan sayap seorang malaikat demi menjangkau langit yang belih tinggi atau dibalik alam raya ini. Benar, hal ini akan menjadikan orang yang imannya lemah jadi tambah ragu akan kebenaran ini, tapi tidak bagi orang yang imannya kuat.

ke-maha Perkasaannya akan menyinari sejauh kebijaksanan-Nya yang berupa Keabadian yang Ia miliki melalui penelusuran perintah serta larangan-Nya. setiap manusia yang tenggelam dalam renungan akan Cinta Alloh subhanahu wata’ala serta kebesaran-Nya dalah sebuah bukti ketundukan seluruh makhluk di jagat raya.

Dan Malaikat-pun mengungkapkan isi hatinya;

Kejayaan itu akan lahir dari sebuah tanah liat
yang jauh dari cahaya para malaikat
Dengan bintang taqdir-Nya
dia akan membuat bumi yang kusam ini laksana pancaran surga

Memiliki akal yang dikaruniai oleh-Nya
mungkin dalam setiap sambaran kilat akan dibawa
dia akan terbang dan menyusuri dalam satu hari saja-
putaran langit biru.

Lihat betapa pentingnya manusia
menyusun apa yang akan terjadi
Sebuah rencana telah disiapkan secara matang
akan Dia, kenapa kamu harus bertanya tentang Aku?

sedini mungkin menghiasi tatanan dalam irama keharmonisan,
tema ini telah usang, jadi buah bibir dikalangan manusia awam,
akan menggambarkan dampak kegembiraan hati
bahkan hati Tuhan-pun akan terketuk.


[Adam Bakhtiar on http://fospi.wordpress.com ]

13 Sept 2010

Islam...Dari tulisan ke Kenyataan ...Lagi!

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (hadits)

Tiga puluh satu tahun setelah dilaluinya dalam PEGABDIAN, KERJA, KARYA, yang luar biasa.

Bila kemudian di hari itu ia hendak bicara, itu sudah semestinya.

Ia hendak bicara atas apa yang telah dilakukannya, sebagai sebuah wasiat untuk anaknya- dan para cucunya- yang akan meneruskan KEPEMIMPINANNYA.





“Aku Sudah Diambang Kematian……








Tapi Aku Berharap Aku Tidak Kawatir, Karena Aku Meninggalkan Seseorang Sepertimu.

Jadilah Seorang Pemimpin Yang Adil, Shalih Dan Penyayang.

Rentangkan Pengayomamu Untuk Rakyatmu, Tanpa Kecuali,

Bekerjalah Untuk Menyebarkan Islam.

Karena Sesungguhnya Itu Merupakan Kewajian Para Penguasa Di Muka Bumi.

Dahuluklan Urusan Agama Atas Apapun Urusan Lainnya.

Dan Janganlah Kamu Jemu Dan Bosan Untuk Terus Menjalaninya.

Janganlah Engkau Angkat Jadi Pegawaimu Mereka Yang Tidak Peduli Dengan Agama, Yang Tidak Menjauhi Dosa Besar, Dan Yang Tenggelam Dalam Dosa.

Jauhilah Olehmu Bid’ah Yang Merusak.

Jagalah Setap Jengkal Tanah Islam Dengan Jihad.

Lindungi Harta Di Baitul Maal Jangan Sampai Binasa.

Janganlah Sekali-Kali Tanganmu Mengambil Harta Rakyatmu Kecuali Dengan Cara Yang Benar Sesuai Ketentuan Islam.

Pastikan Mereka Yang Lemah Mendapatkan Jaminan Kekuatan Darimu.

Berikanlah Penghormatanmu Untuk Siapa Yang Memang Berhak.”

“Ketahuilah, Sesungguhnya Para Ulama Adalah Poros Kekuatan Di Tengah Tubuh Negara, Maka Muliakanlah Mereka.

Semangati Mereka.

Bila Ada Dari Mereka Yang Tinggal Di Negeri Lain, Hadirkanlah Dan Hormatilah Mereka.

Cukupilah Keperluan Mereka.”

“Berhati-Hatilah, Waspadalah, Jangan Sampai Engkau Tertipu Oleh Harta Maupun Tentara.

Jangan Sampai Engkau Jauhkan Ahli Syari’at Dari Pintumu.

Jangan Sampai Engkau Cenderung Kepada Pekerjaan Yang Bertentangan Dengan Ajaran Islam.

Karena Sesungguhnya Agama Itulah Tujuan Kta, Hidayah Itulah Jalan Kita.

Dan Oleh Sebab Itu Kita Dimenangkan.”

“Ambilah Dariku Pelajaran Ini.

Aku Hadir Ke Negeri Ini Bagaikan Seekor Semut Kecil.

Lalu Allah Memberi Nikmat Yang Besar Ini.

Maka Tetaplah Di Jalan Yang Telah Aku Lalui.

Bekerjalah Untuk Memuliakan Agama Islam Ini, Menghormati Umatnya.

Janganlah Engkau Hamburkan Uang Negara, Berfoya-Foya, Dan Menggunakannya Melampaui Batas Yang Semestinya.

Sungguh Itu Semua Adalah Sebab-Sebab Terbesar Datangnya Kehancuran.”


Dan Muhammad Al Fatih ( Salahudin) yang bukan berasal dari Bangsa Arab itu pun Wafat pada 4 Mei 1481 pada umur 52 tahun.

Semoga dalam waktu dekat bangsa yang bukan Arab saat ini….mampu mengembalikan Islam dari tulisan ke dalam kenyataan. LAGI!!!

9 Sept 2010

Met Idul Fitri 1431 H


Bertepatan 30 Ramadhan hari ini dan menjelangnya 1
Syawal bila tenggelamnya matahari Ramadhan petang ini, saya mengucapkan :

'Taqabbalallahu minna wa minkum'.

Semoga segala amalan kita sepanjang Ramadhan diterima Allah S.W.T dan semangat Ramadhan akan terus subur dalam jiwa kita hingga bertemu Ramadhan kembali di tahun depan.

Wassalam.

Selamat tinggal Ramadhanku...

Tidak terasa beberapa jam lagi bulan Ramadhan akan meninggalkan kita, waktu sungguh cepat berlari, laksana sekejap mata, bulan suci ini akan meninggalkan kita …

Asstagfirullah luluskah saya pada bulan Ramadhan ini? Apakah tahun depan saya akan berjumpa dengannya lagi? hanya Allah SWT yang tahu.... Namun harapan saya sebagai hamba-Nya, berharap yang terbaik dan saya percaya Allah Ta’alla pasti akan memberi yang terbaik untuk hamba-hambaNya.

Ya Allah, ridhoillah puasa dan semua ibadah seluruh hamba-hamba-Mu dimuka bumi ini selama bulan Ramadhan ini…

Ya Allah, rahmatilah dan ampunilah segala salah dan silap kami selama bulan suci-Mu….

Ya Allah, jadikanlah kami semua manusia yang baik, berahlak dan manusia-manusia yang Engkau ridhoi di 11 bulan kedepan…

Ya Allah, izinkanlah kami untuk berjumpa lagi dengan bulan suci-Mu ini ditahun depan…

Ya Allah, wafatkanlah kami semua kelak dalam keadaan yang Engkau ridhoi dan rahmati….

Amiiin Allahuma Amiiin.

8 Sept 2010

Jangan Jadi Penghambat Dakwah Seperti Monyet!

Ada golongan yang selalu berusaha menghambat dakwah. Melekatkan stigma hitam kepada penyeru Islam. Bagaimana kita bertahan dalam tarung dahsyat ini?

Lagi keliling-keliling di situs2 islami ...kayanya tema di Hidayatullah.com cocok banget tuk di pampang hari ini, buat para aktifizzzz wajib baca lho...

Jangan Jadi Penghambat Dakwah
Seperti Monyet!


Jika mau digambarkan, Indonesia saat ini mirip dengan apa yang dijelaskan Allah Subhana wata’ala ada dalam surah Al 'Araf. Dalam surah Al A'raf intinya adalah perintah kepada manusia untuk menentukan sifat. Menetapkan pilihan. Setiap surah dalam Al-Qur'an ada tujuannya. Tujuan dari surah ini adalah perintah agar manusia menentukan pilihan hidupnya.
Surah Al ‘Araf turun saat Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam telah memulai dakwahnya secara terbuka (jahr). Ketika dakwah berlangsung dilakukan secara terbuka, maka timbullah konfrontasi seperti yang kita kenal seperti sekarang. Yakni konfrontasi antara al-Haq dan al-Bathil.
Konfrontasi ini, tentu saja, risikonya sangatlah berat. Namun demikian, konfrontasi semacam ini akan terus berlangsung. Itulah mengapa dalam surah Al ‘Araf banyak menceritakan tentang kisah para nabi. Sebab pada intinya, perjuangan para nabi adalah suatu perjuangan membela kebenaran dan melenyapkan kebathilan.
Kita tahu, perjuangan para Nabi pembawa risalah kebenaran memakan waktu panjang dan sangat berat. Tapi pada akhirnya selalu Al Haq jualah yang menang. Kita ingat ketika kaum terdahulu dihancurkan. Misalnya, hukuman Allah untuk kaumnya Nabi Luth, Nabi Nuh, Fir'aun, dan sebagainya. Atau di kisah yang lain, dalam waktu 23 tahun semenanjung Arab bisa berada di bawah panji Islam. Semua memerlukan waktu yang panjang untuk memenangkan kebenaran.
Kemudian di dalam al-Qur'an juga menceritakan tentang orang-ortang yang menentukan sikap dan orang-orang yang tidak menentukan sikap. Menentukan sikap adalah menentukan pilihan. Sedangkan pilihan dalam hidup hanya ada dua, yaitu kebenaran al Islam dan kebathilan.
Allah telah mengetengahkan banyak contoh tentang orang yang menentukan sikap, misalnya, para tukang sihirnya Fir'aun. Ketika Fir'aun menentang Nabi Musa Alaihi salam dengan membawa tukang sihir. Para Tukang Sihir berkata, kalau kami menang, apa ganjaran yang kami dapatkan. Maka dijawab Fir'aun, saya akan memberi upah yang besar dan akan dekat dengan kami, waminal muqorrbin.
Apa yang terjadi?. Begitu tukang sihir menyaksikan mukjizat yang ada pada Nabi Musa, mereka langsung menyatakan sikap; amannaa bi rabbii musa, saya beriman kepada tuhannya Musa.
Kemudian ketika diancam oleh Fir'aun akan dipotong tangannya, kakinya, dan disalib, tukang-tukang sihir dengan mantap menentukan sikap mereka dengan gagah. “Faqdii maa anta qoodii . Lakukan apa yang kamu mau lakukan,” kata tukang-tukang sihir itu tanpa ragu.
Jelas, bahwa ketika kita sudah mengambil sikap yang tegas dalam pertarungan antara al-Haq dan bathil ini, maka kita diuji oleh Allah. Jika kita bisa bertahan dalam sikap kita, maka syurga yang akan kita dapatkan.
Akibat Tidak Menetapkan Pilihan
Surah Al ‘Araf artinya adalah gunung yang tertinggi di batas surga dan neraka. Dikisahkan dalam al-Qur’an, diantara penghuni gunung yang tinggi itu ada kelompok manusia yang mereka dulunya tidak menentukan sikap. Mereka hanya diam. Akibatnya mereka tidak ke syurga, ke neraka juga tidak. Tapi mereka tetap mendapatkan azab Allah SWT.
Di negara kita, Alhamdulillah sudah semakin semarak orang yang berusaha untuk membangkitkan agama Islam, berusaha melaksanakan perintah Islam. Namun pada waktu yang sama, banyak juga orang-orang yang benci kepada Islam, berusaha memerangi Islam, mereka terus berusaha juga menghancurkan Islam dengan dahsyat.
Jadi sebagai seorang muslim sudah selayaknya kita harus menentukan sikap. Apakah kita memilih Al Haq (kebenaran, Al Mustakim) atau Al bathil (kesesatan, Ad-Dhalliin).
Sebab kalau jadi penonton dan tidak menentukan sikap, maka itulah oleh Allah dimaksud dalam surah Al ‘Araf. Yakni kelompok orang yang diam saja. Diam tapi mendapatkan murka Allah.
Di akhir surah ini dikisahkan tentang Ashabul Sabt. Ketika Allah menuangkan perintah melarang mereka untuk memancing pada Hari Sabtu, maka ummat ini terbagi dalam 3 golongan.
Golongan pertama adalah golongan yang melanggar. Golongan kedua, golongan yang diam saja. Golongan ketiga, mereka yang berusaha mencegah dan berusaha menasehati mereka yang melanggar perintah Allah tersebut dengan dakwah.
Ketika golongan yang ketiga berusaha untuk menyampaikan dakwahnya, tapi dicegah oleh golongan yang kedua. “Buat apa kamu memperingatkan mereka. Kalau orang sudah melanggar, nanti pasti akan disiksa oleh Allah SWT, begitulah kata golongan kedua berusaha menghalangi dakwah mulia tersebut.
Golongan ketiga tetap dalam keyakinan dakwahnya. Kata golongan ketiga, ‘agar kami nanti ada jawaban di hadapan Allah kelak bahwa kami sudah memberikan peringatan. Kalau dibiarkan terus, bagaimana bisa golongan pertama ini akan tahu jika apa yang mereka lakukan adalah salah.
Karena yang membangkang terus membangkang, semakin membandel, akhirnya azab itu turun. Kalau bala Allah sudah turun, maka akan terkena semua. Barangkali mungkin sepertilah yang pernah terjadi di Aceh, karena waktu itu maksiat sedang marak di sana.
Allah mengakhiri kisah ini (Ashabul Sabt) dengan perintah memisahkan keberadaan kaum pembangkang dengan orang yang baik-baik, maka dibangunlah tembok pemisah. Ada daerah untuk kaum yang selalu komitmen dengan dakwah dan memberi peringatan, ada daerah yang dekat pantai yakni daerah untuk yang suka membangkang, dan daerah untuk mereka yang diam bahkan mencegah jalanya dakwah.
Berhari-hari dalam masa pemisahan itu, suara manusia diantara tembok masih terdengar bingar. Suara mereka terdengar yang ada di pasar-pasar, di keramaian, dan lain-lain. Setelah berhari-hari hingga bulan, tiba-tiba sepi tidak ada suara.
Hingga kemudian salah satu orang dari golongan ketiga yang selalu berusaha memberi peringatan naik ke atas bukit dan melihat ke bawah. Memastikan apa sesungguhnya yang sedang terjadi.
Apa yang dia saksikan? Dia hanya melihat sekumpulan monyet!. Siapa yang jadi monyet itu? Mereka itulah yang suka membangkang dan mereka yang hanya diam tidak memberi peringatan.
Tak Diam Menyaksikan Kemunkaran
Bukan saja orang yang mancing yang membangkang yang menjadi monyet, tapi juga orang yang diam. Inilah bukti kebenaran al Qur’an tentang kaum shabt. Mereka yang hanya diam, tidak mau memberi peringatan, atau bahkan melarang untuk melakukan amar ma’rif nahyi munkar. Akhirnya mereka juga mendapat hukuman dari Allah.
Inilah yang sering digembar-gemborkan kelompok kebebasan menafsirkan agama. Kalau ada yang melakukan amar ma'ruf nahi munkar, dianggap berusaha menggangu ketertiban dan kenyamanan orang lain. Mereka dianggap tidak toleran dan sebagainya. Akibatnya, orang pun akan menganggap yang munkar sebagai sesuatu yang ma'ruf. Yang ma'ruf dianggap munkar.
Maka, kaum muslimin semua, kita semua punya kewajiban untuk menegakkan amal ma’ruf nahii munkar. Jangan berhenti menasehati dan memberi peringatan. Kita dukung saudara kita yang berusaha menegakkan kebenaran dan mencegah kemaksiatan pada Alllah SWT.
Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang diam apalagi menghambat dakwah Islam, jika kita tidak mau menjadi monyet. Wallahu ‘Alam Bishawab. [ain/hidayatullah.com/]

Indonesia, urutan kelima pengguna internet di dunia.

Kemajuan di bidang penggunaan internet di tanah air semakin tumbuh, masyarakat semakin meminati dunia internet.
Nih kabar dari Hidayatullah.com wilujeng ngaraosan...

Indonesia kini berada pada urutan kelima pengguna internet di seluruh dunia. China yang berada di peringkat pertama (338 juta pengguna internet), Jepang (94 juta), India (81 juta), Korea Selatan (37,5 juta).
"Saat ini, negara Indonesia berada pada urutan lima pengguna internet dari berbagai negara," kata Sekretaris Jenderal Depkominfo, Joko Agun Hariadi, saat menghadiri kegiatan sosialisasi Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang dilaksanakan di Hotel D Maleo Mamuju, Senin.
Menurut dia, kemajuan di bidang penggunaan internet di tanah air semakin tumbuh. Ini berarti, masyarakat Indonesia semakin meminati dunia internet untuk mangakses segala informasi yang ada.
Ia mengemukakan, pengguna internet mobile atau internet menggunakan ponsel di Indonesia diperkirakan telah mencapai 40 juta atau sekitar 10,5 persen dari pelanggan layanan seluler.
"Masyarakat modern saat ini semakin meminati pfasilitas internet untuk mengakses segala bentuk informasi. Makanya, pemerintah pun langsung membuat produk Undang-Undang tentang ITE untuk memberikan jaminan hukum bagi pengguna internet ini," jelasnya.
Ia memprediksi pada lima tahun yang akan datang, pengguna internet ini akan semakin tinggi, apalagi penggunaan internet pun bisa diakses melalui ponsel.
Menurut laporan Internetworldstats (IWS), kata dia, pada tahun 2000 lalu pengguna internet di Indonesia diperkirakan sebesar 2 juta orang, sedangkan sampai akhir 2009, angkanya telah meningkat menjadi sekitar 30 juta pengguna.
Artinya, kata dia, dalam kurun waktu tersebut, pengguna internet di Indonesia tumbuh sebesar 1.150 persen. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sampai 30 September 2009 diperkirakan mencapai 240,2 juta, berarti penetrasi internet telah mencapai 12,5 persen dari populasi.
Dibandingkan dengan total pengguna internet di seluruh Asia, kata IWS , Indonesia menguasai 4,1 persen pengguna internet di asia, good news khan....

7 Sept 2010

rAMADHANKU AKAN PERGI ->::

Di sisa-sisa Ramadhan ini, kupanjatkan doa,

" Ya Allahu Ya Ghaffar... Ampuni Hamba Atas kelancangan menerima amanah-amanah da'wah yang ternyata tidak bisa tertunaikan ."

" Ya Rabb... Teri
ma amal hamba yang berusaha untuk melaksanakan amanah-amanah yang telah dibebankan..."

" Ya Rabb....Berikanlah senantiasa petunjukmu kepada hambamu yang dlaif ini..." " Berkahi dan selamatkanlah kami Ya Rabb Dengan datangnya Bulan Ramadhan ini..." AMIN....

27 Aug 2010


Foto bareng kang Dzikrullah, Relawan Mavi Marmara, jurnalis Hidayatullah. di depan Pesantren Hidayatullah Bandung

15 June 2010

"Sekali Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui"


Tahun 2008 yang lalu aku berstatus sebagai santri di PesantrenHidayatullah.
Sekarang, Aku sudah jadi Ustadz di situ.
Ngga nyangka...Ngga terduga.
Ini pasti skenario Allah!Pasti!

Hamba yakin amanah yg diberikan kepada hamba pasti mampu hamba tunaikan.
Ya Allah berikanlah kemudahan dan keikhlasan dalam menjalaninya. Amin.

4 Mar 2010

Kiat Memilih Buku Bermutu


Mungkin Anda kerap kecewa saat membeli sebuah buku. Padahal uang yang Anda keluarkan untuk mendapatkannya cukup besar. Akan tetapi, isi buku tidak seperti yang Anda harapkan. Bahasanya sulit dipahami, berbelit-belit, dan membosankan. Banyak ejaan yang salah, hasil cetakannya buram, atau bahkan ada halaman yang kosong.

Sebenarnya Anda dapat menghindari kejadian di atas jika Anda mengetahui cara memilih buku yang berkualitas dengan baik. Nah, agar Anda tidak lagi kecewa ketika membeli buku, berikut ini kami sajikan tips-tips untuk memperoleh buku yang baik.

1. Kenali dari penulisnya
Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Ungkapan ini juga berlaku saat Anda memilih buku. Sebelum membeli buku, cari tahu dahulu siapa penulis buku tersebut. Jika Anda telah mengenal pengarang buku tersebut sebagai penulis buku yang berkualitas, Anda boleh merasa yakin buku tersebut berkualitas.

Anda sebaiknya mengetahui, sebuah buku yang baik biasanya ditulis oleh seorang penulis yang memiliki keahlian di bidangnya. Misalnya, Anda ingin mencari buku tentang ekonomi, sudah sepantasnya buku tersebut ditulis oleh penulis yang berlatar belakang bidang ekonomi. Mungkin penulis tersebut seorang guru atau dosen ekonomi, praktisi ekonomi, atau terkenal sebagai pakar ekonomi.

2. Kenali dari penerbitnya
Di Indonesia ada ratusan penerbit. Akan tetapi, tidak semua penerbit memiliki kemampuan untuk menerbitkan buku yang berkualitas. Biasanya penerbit yang sudah cukup lama, memiliki kemampuan tersebut.

Selain itu, penerbit yang berpengalaman umumnya memiliki penulis-penulis buku yang baik. Jadi, carilah buku yang diterbitkan oleh penerbit yang berpengalaman dan buku-bukunya terkenal berkualitas.

3. Kenali dari desain dan tipografinya

Jika Anda sudah yakin bahwa penulis dan penerbit buku tersebut berkualitas, coba lihat sekilas isi dalam buku. Amatilah desain, apakah memudahkan Anda membacanya ataukah tidak. Desain yang ditata dengan baik dan indah akan membantu pembaca untuk memahami isi buku dengan lebih baik.

Perhatikan juga teks atau huruf isi buku tersebut. Syarat buku yang berkualitas, baik teks isi maupun tipografi atau jenis huruf bukunya membantu pembaca untuk menyerap isi buku tersebut. Sebaiknya, hurufnya tidak terlalu besar ataupun tidak terlalu kecil. Sementara, tipografi atau bentuk hurufnya sederhana namun jelas.

4. Kenali dari ilustrasinya
Saat ini, buku-buku tidak hanya berisi huruf-huruf saja. Baik ilustrasi maupun foto telah menjadi bagian dari buku. Penambahan ilustrasi dalam buku maksudnya ialah untuk menambah keindahan buku dan membantu pembaca memahami isi buku.

Jadi, jika Anda membeli buku yang memiliki ilustrasi atau foto di dalamnya, cobalah perhatikan apakah ilustrasi tersebut mendukung isi buku ataukah tidak. Percuma saja ilustrasinya bagus, tetapi ilustrasi tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang diterangkan dalam buku. Sebaliknya, meski ilustrasi tersebut sesuai isi buku, jika tidak menarik dan jelas, justru akan mengganggu keseluruhan buku.

5. Kenali dari sampul bukunya
Buku yang berkualitas dapat juga Anda lihat dari sampul atau cover-nya. Sampul seharusnya mampu mencerminkan isi buku. Jadi, jika sampul bukunya saja sudah tidak menarik, asal-asalan, mudah rusak, bagaimana kita bisa yakin jika buku tersebut berkualitas? Buku yang baik seharusnya memiliki cover yang memiliki desain menarik dan terbuat dari bahan yang kuat atau tidak gampang rusak.

6. Kenali dari sinopsisnya
Sinopsis adalah ringkasan isi buku beserta kelebihan-kelebihannya. Biasanya isi sinopsis ini ditampilkan pada sampul belakang buku. Sebelum Anda memutuskan membeli sebuah buku, alangkah baiknya apabila Anda membaca sinopsis buku tersebut. Cara tersebut akan berguna untuk memastikan bahwa buku tersebut itu sesuai dengan kebutuhan Anda.

7. Kenali dari daftar isinya

Di samping sinopsis, Anda dapat mengetahui isi sebuah buku dengan melihat daftar isinya. Daftar isi merupakan poin-poin atau bab-bab yang terdapat di dalam buku tersebut. Biasanya, daftar isi terdapat pada halaman awal dalam sebuah buku. Sebuah buku yang baik seharusnya memiliki daftar isi yang mampu mencerminkan kandungan isi buku tersebut.

(Prayogo) dari http://ganeca.blogspirit.com/archive/2005/05/index.html

Bagaimana Mengajar Matematika yang Benar

Pernahkah Anda sebagai pengajar merasa kesulitan mengajar matematika kepada anak didik? Mungkin Anda yakin sudah mengajarkan matematika kepada anak didik dengan benar, tetapi mengapa nilai mereka tidak mencapai target Anda? Anda tidak sendirian dalam hal ini, banyak orang tua juga merasakan hal yang sama.

“Matematika itu susah” merupakan pernyataan klasik. Bisa jadi sebagian besar anak didik Anda membenarkan kalimat tersebut. Apalagi mereka yang tidak menyukai matematika pasti beranggapan bahwa ilmu pasti ini rumit, njelimet, membingungkan, dan bikin pusing saja. Akhirnya mereka pun jadi malas belajar matematika.

Satu hal yang harus Anda pahami dan sadari, tidak semua siswa mempunyai tingkat intelektual tinggi. Kemampuan setiap siswa menangkap materi pelajaran yang disampaikan berbeda-beda. “Setiap anak memiliki daya nalar yang berbeda. Respon mereka terhadap materi yang disampaikan guru ada yang cepat dan ada pula yang lambat. Memaksa dan memarahi anak didik tidak akan membuahkan hasil seperti harapan Anda,” demikian penuturan Guru Besar Psikologi dan pengamat pendidikan Universitas Diponegoro dalam Suplemen Pendidikan Media Indonesia (3 Mei 2002). Khusus untuk mata pelajaran matematika, jangan menyuruh anak menghafal rumus. Hal ini juga ditegaskan Seto Mulyadi, ahli psikologi anak. Seperti dikutip dari majalah Bobo, 18 Juni 2001, menurutnya, matematika merupakan ilmu pasti yang menuntut pemahaman dan ketekunan berlatih. Menghafal rumus dan cara mengerjakan soal bukan langkah tepat membuat anak cakap dalam ilmu ini. Pendidik seharusnya memiliki metode mengajar yang menggugah minat siswanya.

Seorang guru matematika kelas 6 SDK 2 Penabur Jakarta, Hennyriawati ( Kompas, 3 Oktober 2004) memiliki cara mengajar yang dapat dicontoh. Dia selalu memberi contoh manfaat belajar matematika kepada anak didiknya yang malas belajar matematika. “Saya selalu menyadarkan mereka akan manfaat dan nilai penting belajar matematika. Tips belajar matematika juga saya berikan agar mereka melakukannya,” tutur Henny.

Tanamkan pada anak didik, dengan belajar matematika kita akan tahu dan bisa mengukur berapa jauh jalan balik menuju tempat semula sehingga tidak tersesat. Kita juga bisa mengatur uang saku yang harus dikeluarkan dan berapa rupiah sisanya yang bisa ditabung. Dalam matematika seringkali terdapat banyak soal cerita. Ketika mengerjakan soal cerita, kita dituntut mengaitkan beberapa hal sehingga dapat membuat logika kita berjalan.

Beberapa tips berikut ini dapat diterapkan oleh guru untuk mempelajari matematika.

• Sebagai pendidik berusahalah supaya cara mengajar Anda menarik bagi para siswa sehingga mereka menyukai Anda. Cobalah untuk sabar dan telaten menuntun mereka belajar. Selingi jam mengajar Anda dengan dongeng dan lelucon.

• Jangan memaksa anak menghafal rumus matematika. Ajaklah mereka memahami teori dan langkah-langkah pengerjaan soal dengan memberi contoh yang dekat dengan dunia anak-anak.

• Cobalah membuat sketsa untuk mempermudah siswa memahami soal cerita. Khusus untuk geometri (pelajaran ruang bangun), ajaklah siswa membuat alat peraga bersama.

• Cobalah Anda membuat bank soal dari soal-soal sulit yang ditemukan dari sumber mana pun. Anda dan semua siswa mencoba menyelesaikan semua soal itu bersama-sama. Bisa juga dibentuk kelompok belajar. Setiap kelompok harus ada 1 dan 2 anak yang pandai matematika supaya bisa membantu teman-temannya. Tentu saja Anda tetap memberi petunjuk penting.

Semoga keempat cara di atas bermanfaat bagi guru-guru.

(Laksmi)

sumber : http://ganeca.blogspirit.com

ketidakmauannya memahami sesuatu melampaui ruang dan waktunya!

Pikiran yang malas belajar akan selalu berdiri kokoh dibalik bangunan cakrawala dan cara pandangnya yang lama. Pikiran yang senang belajar akan selalu berpetualang menjelajahi cakrawala dan cara pandang yang baru! Pikiran yang malas belajar adalah pikiran yang membosankan karena ketidakmauannya memahami sesuatu melampaui ruang dan waktunya! Di sinilah setiap siswa harus bisa menelusuri Logika Aritmatika dan Logika Matematika, agar mereka terbiasa berpikir logis dan sistematis.

14 Oct 2009

Tiga orang yang selalu mendapatkan pertolongan Allah

“Tidakkah kau lihat langit biru dengan awan berarak disulam oleh burung-burung, amatlah indah. Atau engkau saksikan lereng bukit yang teramat indah. Atau taman bunga yang mekar beraneka warna dengan harum semerbak, teramat indah. Atau kau dengar suara jangkrik bersahutan, teramat indah. …Mengapa hati yang satu-satunya ini, kau biarkan merana tanpa gelora cinta kepadaNya?”

,”Berlelah-lelahlah dalam kebajikan, karena dalam kelelahan itu ada kenikmatan yang sungguh nikmat.”

Dalam hidup ini hanya ada dua pilihan. Pertama, menjadi bagian dalam menciptakan fikroh(Pemikiran). Kedua, dipaksa mengikuti fikroh.

Dalam hidup ini hanya ada dua pilihan. Pertama, menjadi bagian dalam menciptakan fikroh(Pemikiran). Kedua, dipaksa mengikuti fikroh.

Tiga orang yang selalu mendapatkan pertolongan Allah tiada henti-hentinya adalah mujahid yang membela agama Allah, PENULIS yang mencerahkan, dan pemuda yang menyegerakan menikah untuk menjaga kehormatan diri.} (HR Ahmad)

21 Sept 2009

met idul fitri, diriku...

kepada diriku terkasih,
" Semoga ramadhan membakar segala dosamu...mensucikan ruhiyahmu...meluruskan niat sucimu...mencerdaskan akal sehatmu... dan mendekatmu ke syurgaNya."


Sahabat-sahabatku, karib kerabat serta handai taulan....
Sedih donk ya ninggalin ramadhan lg, Mudah-mudahan tahun depan Allah kasih kita kesempatan buat kita bercinta dengan ramadhan lagi. Taqabballahu minna wa minkum. Semoga Kita mau dan mampu kembali kepada-Nya dengan Ridla lillahi ta'ala.

teruntuk,
hery haldun

14 Aug 2009

Cek Cek


cek lagi...Error ga ya...

8 Aug 2009

GEMA RAMADHAN mohon doanya aja biar semua bisa kelar yee...

GEMA RAMADHAN 1430 H Kepanjangan dari Gembira menyambut Ramadhan 1430 H, Insya Allah langsung faham kan maksudnya....
Insya Allah akan dilaksanakan tanggal 20 ags 2009, H-1 Ramadhan 1430 H.
Kita akan laksanakan dari pukul 07.00 sampai 22.00 wib bertempat di masjid Al Fath Pasadena.
Insya Allah kita akan adakan lomba kreatifitas anak muslim menyambut ramadhan, pentas kreasi santri mdta al fath dan tabligh akbar bersama ustadzah leni umar dari radio mara.
Selain ngurus gema ramadhan, ry jg lagi normalisasi mdta, persiapan munas ke solo, ngebina adikku yg di purwakarta and bdg, kuliah juga bro , dll lah... jd....mohon doanya aja biar semua bisa kelar yee...

24 May 2009

Kembali Ke Pemikiran Islam


Sesungguhnya umat Islam akan senantiasa berada dalam kemuliaan selama mereka berpegang teguh kepada pemahaman Islam seraya istiqomah mengimplementasikan Islam dalam segala aspek kehidupan. Kapasitas Islam untuk mengantarkan umat manusia mencapai kebangkitan telah dibuktikan oleh para pendahulu kita. Pada masa Rasulullâh saw dan para sahabat Islam telah mengangkat derajat bangsa Arab yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan dalam percaturan dunia menjadi bangsa yang berpengaruh. Mereka mampu menerangi dunia dengan cahaya kebenaran. Para khalifah sepeninggal Rasulullâh saw melanjutkan perjuangan beliau menyatukan berbagai suku bangsa dalam satu akidah dan hukum. Yaitu akidah dan hukum Islam yang diterapkan secara nyata dalam Negara Khilâfah islamiyah yang menguasai dua pertiga dunia dan berjaya selama belasan abad.
Apabila umat Islam benar-benar memahami Islam secara jernih, umat dapat melalui kehidupan dengan arah dan metode yang jelas. Karena Islam memiliki aturan-aturan yang lengkap, adil dan sesuai dengan fitrah manusia sebagai solusi segala problematika kehidupan. Dan Islam mewajibkan setiap muslim untuk senantiasa terikat dengan arah dan metode tersebut. Oleh karena itu setiap muslim dituntut untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dengan mengembalikannya secara mutlak kepada Islam.
Dalam rangka memahami dan mengamalkan Islam seorang muslim harus memiliki pemahaman yang mendalam mengenai akidah dan syari'at Islam Allâh SWT berfirman
فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةً لِيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ
"Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya dan supaya mereka itu dapat menjaga diri" (TQS. At-Taubah: 122)
Rasulullâh saw bersabda :
أيُهَا النَّاسُ تَعَلَمُو اِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلَّمِ وَالْفِقْهُ بِالْتَفَقُّهَ وَمَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُ فِى الدِّيْنِ
"Wahai sekalian manusia belajarlah kalian! Sesungguhnya ilmu itu bisa didapat dengan belajar. Dan paham itu bisa diperoleh dengan cara memahami. Barang siapa yang Allâh menghendaki pada dirinya kebaikan, maka Allâh akan pahamkan dia dalam masalah agama" (THR. Ibnu Abi Ashim dan Thabrani)
Kedua nash tersebut menerangkan kewajiban mempelajari pemahaman Islam berlaku bagi setiap muslim (fardu 'ain). Setiap muslim harus memahami akidah Islam yang akan dijadikan landasannya dalam berpikir dan Syariat Islam sebagai panduan dan tolak ukur amal perbuatan. Oleh karena itu setiap muslim wajib mengerahkan segenap kemampuannya untuk mendapatkan pemahaman tersebut termasuk memahami ilmu pendukung untuk menggali pemahaman Islam. Menurut sebuah kaidah syara' : mâlâ yatimmu al wajîbbu illâ bihî fahua wâjibun (segala sesuatu yang menjadikan sempurnanya suatu kewajiban menjadikan sesuatu itu menjadi wajib). Maka dari itu ilmu pendukung seperti Bahasa Arab, Ushul fiqih, Ulumul Hadits dan Ulumul Quran wajib dipelajari, karena tanpa ilmu-ilmu tersebut kita tidak dapat memahami Islam dengan sempurna.
Namun kewajiban itu belum sempurna sehingga umat Islam dapat memahami permasalahan yang dihadapi dengan serinci-rincinya. Karena untuk menentukan status hukum dari setiap benda maupun perbuatan harus diketahui terlebih dahulu realitanya untuk kemudian dikaitkan dengan nash syara'. Setelah itu barulah didapatkan kesimpulan hukum yang benar. maka merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk memahami semua realita yang berkaitan dengan aktivitas yang ia lakukan dalam bidang ekonomi, politik, budaya, biologi, kesehatan, dan lain sebagainya.
Dengan sekedar memahami ilmu-ilmu tersebut bukan berarti kewajiban menuntut ilmu telah selesai, karena Islam menuntut kita untuk menyempurnakan semua kewajiban yang sering kali terkait dengan ilmu dan sarana pendukung. Misalnya untuk kewajiban berperang fîsabîlillâh:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allâh, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allâh mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allâh niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)” (TQS. al-Anfaal : 60).
Berarti Allâh SWT memerintahkan kita untuk mempelajari teknologi dan strategi perang untuk menyempurnakan kewajiban ini. Begitu pula ilmu-ilmu lain yang dapat menyempurnakan kewajiban seperti matematika, biologi, kedokteran, kimia, perindustrian dan lain sebagainya harus dikuasai dan berstatus hukum fardu kifayah. Rasulullâh saw berkata: “Carilah ilmu meskipun ke negeri Cina” (THR. Ibnu Adi dan Baihaqi dari Anas ra). Hadits ini menunjukkan kewajiban untuk mempelajari segala jenis ilmu dalam cakupan ilmu yang sangat luas.
Imam al-Ghazali pernah berkata: "Apabila ilmu-ilmu dan karya-karya yang dimiliki non muslim lebih utama dari yang dimiliki kaum muslimin, maka kaum muslimin berdosa dan kelak akan dituntut atas kelalaian itu."
Apabila seluruh umat Islam istiqomah dalam memenuhi kewajiban mendalami tsaqafah Islam, memahami relita kehidupan dan berjuang keras mengembangkan ilmu pengetahuan guna menyempurnakan kewajiban Allâh SWT akan memuliakan mereka.
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ
“Katakanlah (wahai Muhammad), apakah sama orang-orang yang berpengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan” (TQS. az-Zumar: 9).
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا اِلَى الْخَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allâh akan memudahkan jalan baginya menuju syurga” (THR. Muslim dan Tirmizi dari Abu Hurairah ra).
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allâh mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (TQS. al-Mujadalah: 11).
Janji Allâh SWT tersebut telah terbukti. Ketika Islam diyakini dan diterapkan Umat Islam selalu paling depan dalam meraih kemajuan-kemajuan yang gemilang dalam ekonomi, militer, pendidikan dan bidang kehidupan lainnya. Umat Islam telah melahirkan banyak ulama andal yang menguasai berbagai cabang ilmu. Tidak sedikit di antara mereka yang berpredikat sebagai mujtahid sekaligus ahli sains, pemikir, atau sastrawan. Nama-nama mereka tertulis dalam lembaran sejarah karena banyak memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi ilmu pengetahuan dan peradaban manusia pada umumnya.
Umat islam disegani oleh umat-umat lain. Pengaruh kaum Muslimin saat itu sangat kuat. Selama beberapa abad negeri-negeri Islam menjadi pusat peradaban dunia yang mempengaruhi corak peradaban dunia. Sejarah mencatat renaisance (kebangkitan eropa) amat dipengaruhi oleh peradaban Islam yandg diadopsi oleh barat.
Demikianlah bagiamana Islam mengangkat derajat kaum Muslimin selama mereka mengimani, memahami dan mengamalkan Islam dengan benar dan bersungguh-sungguh dalam menjaga kemurnian pemahamannya.
Namun sejak pertengahan abad XII Hijriyah (18 Masehi) kaum Muslimin mengalami kemunduran dengan sangat cepat. Kemunduran tersebut adalah akibat dari kelalaian umat dalam menjaga kemurnian pemahaman Islam dan pengamalannya. Akibatnya, semakin lama keimanan mereka semakin lemah dan semakin jauh dari syari’at.
Pada awal abad II Hijriyah banyak pemikiran asing yang bertentangan dengan Islam mulai menyelinap masuk ke dalam pemahaman kaum Muslimin. Filsafat-filsafat asing seperti filsafat Yunani, India, Persia, telah memengaruhi kaum Muslimin sehingga mereka terseret jauh dari pemahaman Islam yang sahih. Sebagian kaum Muslimin berupaya mengompromikan bahkan menginterpretasikan pemahaman Islam dengan pemahaman asing. Akibatnya pemahaman umat menjadi kacau dan jauh dari hakikat kebenaran.
Keadaan kaum Muslimin menjadi semakin parah tatkala orang-orang kafir mulai melancarkan serangannya dengan cara penjajahan fisik, perang pemikiran (Ghazwul Fikri) dan pergolakan budaya (Ghazwul tsaqafi). Kaum Muslimin terpukau oleh peradaban Barat sehingga mereka mencampakkan Islam. Pada akhirnya peradaban kaum Muslimin roboh diterjang pemikiran Barat. Dan buah dari semua itu kaum Muslimin harus menanggung kehinaan dan kenestapaan akibat penjajahan, fisik maupun pemikiran, yang dilakukan orang-orang kafir hingga saat ini.
Pengalaman adalah guru yang paling baik. Demikian petuah orangtua kita. Berkaca dari sejarah, kita dapat melihat betapa kelalaian dalam menjaga pemahaman Islam ini telah menjatuhkan kita pada titik terendah dari peradaban Islam. Suatu posisi yang tidak selayaknya ditempati oleh umat terbaik. Oleh karena itu kita harus melakukan upaya-upaya nyata untuk mengembalikan kejayaan kaum Muslimin. Hal paling mendesak untuk dilakukan adalah menarik kembali umat ke dalam pelukan Islam dengan cara menanamkan kembali pemahaman Islam ke dalam benak mereka seraya membersihkannya dari pemikiran-pemikiran kufur. []